Status tersebut menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa menghadapi perkembangan zaman.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMP Negeri 1 Sampit, Yuli Karyati, dalam pertemuan bersama komunitas sekolah dan orang tua/wali murid.
Yuli mengatakan, SMP Negeri 1 Sampit memiliki posisi strategis sebagai satu-satunya sekolah model untuk jenjang SMP di Kotim. Selain SMP, terdapat pula sekolah model pada jenjang pendidikan lainnya, seperti SD dan TK.
“Bahwa SMP Negeri 1 ini satu-satunya sekolah model dari Kabupaten Kotawaringin Timur untuk jenjang SMP. Memang ada SD dan juga ada TK, tetapi SMP-nya hanya kita,” ujarnya, Sabtu 25 Juli 2026.
Menurut Yuli, status sebagai sekolah model membawa tanggung jawab besar bagi seluruh warga sekolah. Terlebih, sekolah saat ini dituntut untuk mampu mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
Ia mengungkapkan, dalam pelatihan yang diikutinya sebagai kepala sekolah, terdapat sejumlah aspek penting yang harus dipersiapkan untuk pengembangan sekolah model. Diantaranya penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning, pengembangan kemampuan coding, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
“Banyak hal yang harus kita siapkan. Karena itu, kami berkomitmen untuk meneruskan program sekolah model ini. Ini adalah sebuah kebanggaan bagi sekolah dan seluruh warga sekolah,” jelasnya. Namun, Yuli mengakui bahwa pengembangan sekolah model membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya dukungan dari orang tua/wali murid.
Ia menjelaskan, pihak sekolah telah berupaya memasukkan berbagai program pengembangan pendidikan ke dalam anggaran Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP). Namun, terdapat berbagai keterbatasan karena anggaran tersebut juga harus membiayai banyak program lainnya.
Menurutnya, jika seluruh program sekolah dirinci, terdapat lebih dari 20 item kegiatan yang harus mendapatkan dukungan pembiayaan. Mulai dari kegiatan akademik, olahraga, seni, hingga berbagai ajang pengembangan minat dan bakat siswa.
“BOSP itu banyak. Kalau kita rinci, ada OSN untuk sains, O2SN untuk olahraga, FLS3N untuk seni, kemudian ada GSI dan berbagai kegiatan lainnya. Kalau dirinci satu per satu, itu melebihi 20 item,” katanya.
Karena itu, pihak sekolah berharap orang tua dapat melihat potensi dan bakat anak masing-masing. Tidak semua minat dan bakat siswa dapat terakomodasi melalui program yang dibiayai oleh BOSP maupun program resmi pemerintah.
Yuli mencontohkan, apabila seorang siswa memiliki minat terhadap drum band atau kegiatan lain yang belum masuk dalam program pembiayaan utama, maka dukungan orang tua dapat menjadi bagian penting dalam membantu pengembangan bakat tersebut.
“Anak-anak Bapak Ibu pasti memiliki bakat-bakat yang terpendam. Kalau misalnya sukanya drum band, maka bisa didukung melalui dana komite,” ujarnya. Ia menegaskan, dukungan orang tua tersebut diharapkan menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik.
Menurutnya, sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam mengembangkan potensi peserta didik. “Harapan kami, Bapak Ibu orang tua mendukung dan menjadikan sekolah model kita memang betul-betul seperti model,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Yuli juga mengajak para orang tua untuk membangun komunikasi terbuka dengan pihak sekolah dan komunitas sekolah. Ia meminta agar berbagai persoalan, kendala, maupun hal-hal yang dirasakan mengganjal dapat disampaikan melalui forum yang telah disediakan.

















Discussion about this post