SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis 15 Januari 2026. Peristiwa tersebut terjadi di Jalan menuju Desa Ujung Pandaran RT 4, Kecamatan Teluk Sampit, dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 6 hektare.
Kejadian ini terjadi di tengah terpantau masih adanya sejumlah titik panas (hotspot) di wilayah Kotim dalam 24 jam terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan laporan awal kebakaran diterima pihaknya sekitar pukul 12.25 WIB dari relawan Dompet Peduli.
“Informasi awal kami terima dari saudara Iky Delon, relawan Dompet Peduli, yang melaporkan adanya kebakaran lahan di wilayah Ujung Pandaran,” ujarnya, Kamis 15 Januari 2026.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kotim langsung dikerahkan ke lokasi. Namun, proses penanganan dihadapkan pada kendala jarak dan medan.
“Tim tiba di lokasi sekitar pukul 15.07 WIB. Lokasi kebakaran berada kurang lebih dua kilometer dari jalan provinsi Ujung Pandaran–Sampit dengan akses darat yang terbatas,” jelas Multazam.
Ia menjelaskan, titik awal api berada di kawasan yang dikenal masyarakat setempat sebagai daerah Prada. Kondisi ini menyulitkan mobilisasi peralatan pemadaman.
“Akses darat yang terbatas membuat pemadaman tidak bisa dilakukan secara optimal,” katanya.
Multazam memastikan penyebab kebakaran berkaitan dengan aktivitas masyarakat.
“Dapat dipastikan ada aktivitas masyarakat yang menjadi pemicu. Saat kejadian angin bertiup cukup kencang sehingga api cepat menyebar dan menimbulkan asap tebal,” ungkapnya.
Vegetasi di lokasi kebakaran didominasi lahan gambut dan mineral yang mudah terbakar. Upaya pemadaman pun dilakukan secara bertahap.
“Kami melakukan pemadaman agar api tidak semakin melebar, serta memonitor segmen lain yang tidak bisa dipadamkan karena akses darat tidak tersedia dan keterbatasan air,” ujarnya.
Selain kejadian karhutla di Teluk Sampit, Multazam juga menyinggung data sebaran titik panas di wilayah Kotim. Berdasarkan rekapitulasi hotspot BMKG dan BPBD Kotim yang diakses pada 14 Januari 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 15 hotspot dalam 24 jam terakhir di sejumlah kecamatan. Sebagian besar hotspot berada pada tingkat kepercayaan menengah.
“Data hotspot ini menjadi perhatian serius kami karena menunjukkan potensi karhutla di beberapa wilayah,” kata Multazam.
Adapun sebaran hotspot tersebut meliputi Kecamatan Mentaya Hulu sebanyak 5 titik, Pemantang 4 titik, Telawang 4 titik, dan Kenyala 4 titik. Selain itu, hotspot juga terdeteksi di Antang Kalang, Tumbang Kalang, Bukit Santuai, Tumbang Batu, Tanjung Bantur, Tualan Hulu, Luwuk Sampun, Cempaga, Patai, dan Luwuk Ranggan, masing-masing dengan satu hingga dua titik.
Ia menegaskan bahwa data hotspot tersebut menjadi dasar BPBD untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan di lapangan.
“Kami terus memantau perkembangan hotspot agar kejadian karhutla bisa diantisipasi sedini mungkin,” ujarnya.
Dalam penanganan kebakaran di Ujung Pandaran, BPBD Kotim melibatkan 16 personel TRC BPBD, Kapolsek Jaya Karya, Koramil 1015/01 Mentaya Hilir Selatan melalui Babinsa, Kepala Desa Ujung Pandaran, PT Siemon Agri, Masyarakat Peduli Api (MPA) Teluk Sampit, serta KPHP Menteng Selir.
Hingga pukul 17.00 WIB, kondisi kebakaran belum sepenuhnya dapat ditangani.
“Secara umum api sudah berhasil dikendalikan, namun masih terdapat titik yang tidak bisa dipadamkan karena tidak tersedia akses darat,” jelas Multazam.
Meski demikian, ia memastikan tidak ada kebutuhan mendesak dalam penanganan kejadian tersebut. Fokus BPBD saat ini diarahkan pada langkah pencegahan.
“Kami berharap pemerintah desa dapat menyiapkan peralatan pemadam kebakaran dan meningkatkan kesiapsiagaan,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam beraktivitas.
“Kami mengingatkan warga agar tidak sembarangan membakar sampah, apalagi saat ini sudah memasuki musim kemarau,” tegasnya.
Selain itu, Multazam menekankan agar para petani dan pelaku usaha perkebunan tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
“Cara membakar dalam pembukaan lahan sangat berisiko dan dapat memicu kebakaran yang lebih luas,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post