SAMPIT – Ditengah pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum juga selesai, mengharuskan masyarakat memutar kepala untuk mencari ide-ide cemerlang agar bisa mempertahankan perekonimian.
Khususnya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sejumlah usaha mikro kecil menengah (UMKM) banyak yang terdampak pandemi Covid-19. Bahkan yang sangat merasakan dampaknya yakni para motoris penyebarangan sungai mentaya.
Salah seorang motoris Robi mengatakan, dirinya banyak sekali kehilangan pelanggan ditengah pandemi ini. Selain itu juga lantaran sudah adanya feri penyebarangan yang tersedia.
“Sebelum adanya virus corona, yang menyebarang lumayan banyak. Tapi di tahun ini jarang sekali ada yang menyebrang, apalagi sudah ada feri penyebrangan. Sekarang orang-orang sudah menggunakan sepeda motor dan akan menyebrang menggunakan feri,” tutur Robi, Sabtu 12 Desember 2020.
Dengan mata yang sedikit menyipit lantaran Robi tersenyum dibalik masker yang digunakannya, Robi menyebutkan meski demikian dirinya tetap bersyukur karena masih ada beberapa warga yang menggunakan jasanya untuk menyebrang.
Meski tidak banyak, namun beberapa warga mentaya seberang yang ingin berjualan di pusat perbelanjaan mentaya (PPM) masih setia menggunakan jasanya.
Robi mengaku sudah 15 tahun lamanya menggeluti usaha ini, sehingga dirinya tidak bisa meninggalkan usaha ini begitu saja setelah pengguna jasa berkurang. Ia dan keluarga menggantungkan hidupnya pada penghasilkan sebagai motoris kelotok penyebrangan.
Berbekal keyakinan Robi akhirnya mulai mengambil job sebagai motoris susur sungai, meski sebelum pandemi melanda negeri ini dirinya memang sudah beberapa kali menjadi motoris susur sungai. Namun baru setelah ada pandemi inilah dirinya sangat serius menggeluti usaha susur sungai.
“Saya harus berinovasi agar mendapatkan penghasilan lebih. Salah satunya dengan usaha susur sungai ini, jadi saya tidak hanya menyebrangkan pengunjung namun juga bisa melayani pengunjung yang ingin melihat pinggiran sungai mentaya,” bebernya.
Bahkan Robi sudah mulai menghias kelotoknya sejak empat bulan lalu, demi menarik pengunjung yang lebih banyak. Dan menurutnya cara itu berhasil dengan terbukti meningkatnya pengunjung terutama untuk susur sungai.
“Sebelum dihias pendapatan saya per hari sekitar Rp 100 ribu, sedangkan saat sudah dihias per harinya bisa mencapai Rp 300 ribu,” ucapnya dengan nada semangat.
Seolah tidak mengenal lelah, Robi mengaku sejak pagi hingga malam hari dirinya menjaga kelotok (perahu kecil) Karena pengunjung bisa datang kapan saja, sehingga kelotok harus selalu ada yang menunggu.
Sedangkan untuk wisata susur sungai menurutnya mulai ramai dikunjungi sekitar pukul 16.00 WIB hingga menjelang magrib pukul 17.40 WIB. Terkhusus untuk hari Sabtu dan Minggu diakuinya pengunjung lebih banyak dibanding hari biasanya.
Tarif susur sungai dipatoknga sama sama dengan motoris lain yakni dari pelabuhan menuju PT Sampit Rp 200 ribu, dari pelabuhan menuju Bandara Rp 150 ribu, sedangkan dari kampung ke kampung Rp 50 ribu.
“Kalau cuma mau menyebarang, satu orang 5 ribu. Di saat pandemi ini lebih banyak pengunjung susur sungai dibanding penyebrangan,” ujarnya.
Ditambahkan juga oleh motoris lainnya Putra, usaha susur sungai ini sebelum adanya virus korona belum ramai, ditambah dengan rencana dari pemerintah pariwisata susur sungai belum ada.
“Sekarang karena corona orang tidak ada pilihan tempat hiburan lain selain susur sungai. Dibantu pemerintah juga karena susur sungai mulai digencarkan sebagai pariwisata Kotim,” sebut Putra.
Menurutnya, para motoris yang diketahui berkelompok-kelompok di masing-masing wilayah pinggiran Sungai Mentaya ada 24 jam di pelabuhan berjaga secara bergantian masing-masing nahkoda.
Dimana sebut Putra, untuk kelompoknya bersama Robi ada 41 kelotok yang diketuai oleh Taufik. Dan dari sejumlah tersebut, ada sekitar 35 kelotok yang dihias untuk menarik minat pengunjung. Sedangkan kelompok motoris lainnya ada yang beranggotakan 44 kelotok, 40 kelotok hingga total seluruhnya lebih dari 100 kelotok motoris yang tersedia di Sampit.
“Menghias ini inisiatif sendiri, awalnya ada kejadian orang nyebrang ngangkut barang. Dan kursi ditaroh di atas. Ternyata malah ramai yang mau berkunjung, dan kelotok lain juga jadi ikut ada kursi di atas,” ungkapnya.
Sehingga pihaknya sepakat untuk menghias kelotok semua dengan modal sendiri-sendiri. Dan sampai saat ini modal sudah kembali berkat banyaknya pengunjung.
Dirinya mengaku usaha penyebrangan dan susur sungai ini adalah usaha dan sumber penghasilan satu-satunya para motoris yang terdaftar dalam kelompok.
“Kami berharap dapat bantuan dari pemerintah, karena ini juga wisata untuk daerah dan akan mengenalkan daerah. Untuk menghias kelotok itu memakan modal yang lumayan besar bagi kami, satu kelotok saja ada yang menghabiskan modal hingga Rp 2 juta,” ujarnya.
Terhadap virus Covid-19 ini tersimpan juga harapan penuh agar Pandemi Covid-19 segera usai dan masyarakat bisa dengan nyaman serta tidak was-was lagi untuk menikmati indahnya wisata susur sungai Mentaya.
(dia/matakalteng.com)





















Discussion about this post