PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalimantan Tengah mulai memanfaatkan early warning system (EWS) sebagai bagian dari upaya pencegahan bencana, meski saat ini alat tersebut baru tersedia di tiga kabupaten.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPB-PK Kalteng, Indra Wiratama, mengatakan EWS tersebut merupakan pengadaan tahun 2025 dan dipasang di Kabupaten Barito Timur, Barito Selatan, dan Katingan. “Alat early warning system saat ini memang baru ada di tiga kabupaten. Itu pengadaan tahun 2025,” kata Indra, Senin 2 Februari 2026.
Menurutnya, EWS yang dipasang tidak hanya difungsikan untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga untuk peringatan dini banjir. Alat tersebut bekerja dengan membaca tinggi muka air, bukan debit air.
“Alat ini membaca tinggi muka air. Kalau mau mengukur debit air, sensornya berbeda lagi dan biayanya cukup besar. Itu salah satu kendala kenapa belum bisa dipasang secara luas,” jelasnya.
Indra menambahkan, setiap daerah memiliki ambang batas (threshold) yang berbeda dalam menentukan status waspada, siaga, hingga awas banjir, tergantung karakteristik wilayah masing-masing.
“Contohnya di Barito Selatan, threshold banjir itu di angka 14 meter. Tapi angka ini tidak bisa diterapkan di daerah lain. Di Katingan, 14 meter itu sudah banjir besar, sementara di Barito Timur mungkin baru masuk kategori waspada,” ungkapnya.
Untuk fungsi pencegahan karhutla, Indra menjelaskan bahwa standar lama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan ambang batas kedalaman air tanah di bawah 40 sentimeter sebagai kondisi rawan. Namun, hasil pemantauan lapangan menunjukkan kondisi tersebut tidak selalu sama di setiap daerah.
“Di Katingan, berdasarkan alat yang kami pasang, di bawah 50 sentimeter pada Desember kemarin masih kondisi basah. Artinya, standar 40 sentimeter itu tidak selalu berlaku. Nanti saat musim kemarau, bisa jadi di bawah 50 sentimeter sudah rawan karhutla,” ujarnya.
Ia menegaskan, ke depan penentuan threshold EWS, baik untuk banjir maupun karhutla, akan disesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing daerah, termasuk penetapan status waspada, siaga, dan awas.
Terkait teknis alat, Indra menyebut EWS bekerja menggunakan sistem sensor ultrasonik yang membaca pantulan ke permukaan bawah, mirip prinsip kerja sonar.
“Memang ada potensi gangguan, misalnya kalau sensornya tertutup atau terhalang. Tapi itu tidak mungkin terjadi terus-menerus. Secara umum alat ini cukup membantu sebagai peringatan dini,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)





















Discussion about this post