PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Kalimantan Tengah meski wilayah ini tengah berada dalam musim hujan. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Kalimantan Tengah menegaskan, faktor utama karhutla hampir seluruhnya berasal dari aktivitas manusia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD-PK Kalimantan Tengah, Indra Wiratama, mengatakan sebagian besar kejadian karhutla dipicu oleh ulah manusia, meski diperkuat oleh kondisi cuaca panas.
“Kalau saya katakan, karhutla itu 99,99 persen adalah ulah manusia. Namun memang bisa dipantik oleh cuaca panas. Kalau kondisi basah atau dingin, meskipun ada aktivitas membakar, biasanya tidak sampai terjadi kebakaran besar,” kata Indra saat dikonfirmasi, Rabu 21 Januari 2026.
Dia menjelaskan, wilayah paling rawan karhutla di Kalimantan Tengah adalah Kabupaten Pulang Pisau. Daerah ini memiliki gambut dalam dengan kubah gambut yang kedalamannya bisa mencapai 36 meter, sehingga api sangat sulit dipadamkan jika sudah merambat ke lapisan bawah.
“Pulang Pisau itu paling rawan, bukan hanya tahun ini. Kalau sudah terbakar sampai ke bawah, pemadamannya sangat berat,” ujarnya. Selain Pulang Pisau, kawasan selatan Kalimantan Tengah juga dinilai rawan karena memiliki gambut tebal. Berbeda dengan wilayah seperti Barito Utara yang didominasi tanah mineral, sehingga kebakaran relatif lebih cepat dipadamkan.
Sepanjang awal 2026, Indra mencatat kejadian karhutla terjadi di sejumlah daerah, di antaranya Kabupaten Kotawaringin Timur, Sukamara, Kotawaringin Barat, serta Kota Palangka Raya. Sementara Pulang Pisau hingga saat ini masih relatif aman dari kejadian kebakaran. Indra juga mengingatkan bahwa karhutla di Pulang Pisau berpotensi berdampak luas hingga ke Palangka Raya.
Arah angin yang umumnya bertiup dari tenggara dapat membawa asap ke ibu kota provinsi dan mengganggu aktivitas penerbangan serta perekonomian. “Kalau Pulang Pisau terbakar, asapnya bisa ke Palangka Raya. Dampaknya bisa ke penerbangan dan ekonomi,” jelasnya.
Daerah lain seperti Katingan dan Seruyan juga masuk kategori rawan. Seruyan memiliki karakteristik khusus karena dekat dengan laut, sehingga arah angin bisa berubah dan berdampak ke wilayah lain. Sementara Sukamara dan Kotawaringin Barat dinilai masih relatif terkendali.
Untuk mengantisipasi karhutla sejak awal tahun, BPBD-PK Kalteng melakukan upaya sosialisasi, pemantauan, dan penanganan di lapangan. Namun Indra menekankan, seluruh upaya tersebut tidak akan efektif tanpa dukungan kesadaran masyarakat.
“Percuma dipadamkan kalau masih ada pembakaran yang tidak terkendali. Secara aturan memang dilarang, tapi ini juga berkaitan dengan penghidupan masyarakat. Yang paling penting adalah membangun kesadaran bencana,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post