PALANGKA RAYA – Intensitas hujan di Kalimantan Tengah yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir dipastikan bukan dipicu oleh siklon seperti yang menyebabkan bencana besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, menegaskan cuaca basah di Kalteng dipengaruhi fenomena La Niña yang membuat suplai uap air meningkat dan musim hujan menjadi lebih basah.
Menurut Koordinator Bidang Data dan Informasi, Anton Budiyono, La Niña tidak dapat disamakan dengan siklon tropis yang memicu curah hujan ekstrem dan kerusakan masif di Sumatera. “La Niña hanya meningkatkan suplai uap air dan curah hujan. Berbeda dengan siklon yang mengumpulkan massa udara dari berbagai penjuru dan menyebabkan cuaca ekstrem,” jelas Anton, Senin 15 Desember 2025.
Ia mencontohkan, intensitas hujan di Sumatera beberapa waktu lalu mencapai tingkat yang jauh di luar batas normal. “Di Sumatera kemarin, curah hujannya sehari bisa 300 mm. Itu setara hujan satu bulan di musim hujan di Kalteng,” ungkapnya. Hujan ekstrem itu bahkan berlangsung berhari-hari.
“Karena berlangsung sampai tujuh hari, totalnya bisa lebih dari 2.000 mm setara hujan satu tahun. Itu sebabnya dampaknya sangat besar,” tambahnya. Untuk kondisi di Kalteng, La Niña memang meningkatkan intensitas hujan, namun skalanya tidak selevel dengan fenomena siklon.
“Curah hujan kita tinggi karena La Niña, tapi tidak ekstrem seperti siklon. Meski begitu, potensi banjir tetap ada, terutama di daerah utara,” kata Anton. Faktor lain yang memperburuk banjir adalah kondisi hulu dan perubahan tutupan lahan.
“Air dari daerah tinggi pasti turun ke bawah. Kalau curah hujannya besar dan kondisi hulu rusak, limpasan jadi lebih cepat,” terangnya. BMKG memperkirakan La Niña masih akan bertahan hingga semester pertama 2026. “Kami sudah keluarkan peringatan dini. Kuncinya koordinasi di lapangan agar dampak bisa diminimalkan,” tegas Anton.
(nra/matakalteng)





















Discussion about this post