PALANGKA RAYA – Target pembangunan 257 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Tengah pada 2025 dinilai masih jauh dari pencapaian. Tantangan geografis serta rendahnya minat mitra untuk membangun dapur di wilayah terpencar menjadi faktor utama. Hal ini disampaikan Koordinator SPPG Regional Kalteng, Elisa Agustino, Selasa 18 November 2025.
Elisa menyebut optimisme tetap ada, namun kondisi lapangan menunjukkan hambatan nyata. “Kendala utama adalah jarak dan luasnya wilayah Kalteng. Mitra kadang ragu membangun dapur di daerah yang jauh dan penerima manfaatnya terpencar,” ujarnya. Untuk menjawab tantangan tersebut, BGN kini mempercepat pengembangan SPPG 3 model dapur sederhana yang dirancang khusus untuk daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal.
Desainnya lebih ringkas sehingga proses pembangunan bisa berlangsung lebih cepat dibandingkan dapur aglomerasi. “Sudah banyak yang mulai membangun. Harapannya akhir tahun ini dapur 3T bisa selesai, selama cuaca mendukung,” katanya. Saat ini terdapat 88 mitra baru terdaftar. Jika digabungkan dengan 58 SPPG yang telah ada, jumlahnya berpotensi menembus lebih dari 100 dapur. “Minimal 80 persen target penerima manfaat dapat terpenuhi,” lanjut Elisa.
Untuk wilayah sulit akses, sistem distribusi disesuaikan dengan kondisi lapangan. “Bisa pakai klotok, motor, atau perahu. Yang penting makanan aman dan tertutup,” tegasnya. Perbedaan pokok antara dapur aglomerasi dan 3T dijelaskan sebagai berikut:
Aglomerasi: ukuran 20×20 meter, kapasitas 3.000 porsi, minimal dua kendaraan distribusi. 3T: ukuran 10×15 meter, kapasitas 50–200 porsi, kendaraan bebas sesuai medan. Di beberapa wilayah, harga bahan pangan yang tinggi membuat BGN harus mengajukan penyesuaian anggaran. “Kalau harga bahan baku terlalu tinggi, kami ajukan indeks kemahalan harga ke Pemda agar pagu bisa disesuaikan,” ujarnya.
Elisa menambahkan, saat ini 11 SPPG telah mengantongi SLHS. Dari 58 dapur existing, 43 sudah beroperasi. “Semua SPPG yang beroperasi sudah mengurus SLHS, hanya saja prosesnya mengantri karena menunggu uji laboratorium dari Dinas Kesehatan,” jelasnya. Dengan berbagai keterbatasan geografis dan logistik, BGN menegaskan bahwa pembangunan dapur 3T menjadi kunci untuk memastikan pemenuhan layanan MBG di seluruh Kalteng, khususnya wilayah yang selama ini sulit dijangkau.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post