PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan generasi muda yang cerdas dan berkarakter. Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran menekankan pentingnya pendidikan bagi seluruh anak di Kalteng, dalam arahannya kepada seluruh Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Administrator, dan Pengawas di lingkungan Pemprov Kalteng, yang berlangsung di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur, baru-baru ini.
“Anak-anak Kalteng harus sekolah. Mereka harus menerapkan nilai-nilai Belom Bahadat dan memiliki karakter kuat. Ini investasi jangka panjang kita untuk lima, sepuluh bahkan dua puluh tahun ke depan,” tegas Gubernur Agustiar Sabran di hadapan para kepala dinas, termasuk Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Muhammad Reza Prabowo.
Menanggapi arahan tersebut, Plt. Kadisdik Muhammad Reza Prabowo menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk mendukung 8 Program 100 Hari Kerja Gubernur dan Wakil Gubernur, khususnya dalam prioritas pembangunan sumber daya manusia.
“Salah satu target utama kami adalah memastikan program sekolah gratis dan kuliah gratis bisa terlaksana 100 persen dengan baik. Ini bukan sekadar janji, tapi amanah yang harus dituntaskan,” ujar Reza, Minggu 18 Mei 2025.
Reza juga menjelaskan bahwa pendidikan karakter menjadi salah satu fokus utama. Dinas Pendidikan telah mengeluarkan surat edaran yang mewajibkan siswa muslim untuk mengaji dan siswa dari agama lain melakukan literasi kitab suci sesuai keyakinannya. Selain itu, satu hari dalam sepekan akan ditetapkan sebagai “Hari Berbahasa Dayak” guna melestarikan bahasa dan budaya lokal.
Di sisi lain, penguatan literasi dasar, termasuk kemampuan bahasa asing dan numerasi, turut menjadi perhatian. “Kita ingin anak-anak Kalteng punya akar budaya yang kuat, tapi juga siap bersaing secara global,” katanya.
Untuk menunjang konsentrasi belajar, kebijakan baru diberlakukan dengan menyediakan loker khusus penyimpanan ponsel di setiap ruang kelas. Ini diterapkan bersamaan dengan percepatan digitalisasi pembelajaran yang kini sudah menjangkau hampir seluruh sekolah.
“Digitalisasi pembelajaran sudah berjalan, tapi kami juga ingin anak-anak fokus saat belajar. Maka, HP harus disimpan selama pelajaran berlangsung,” jelas Reza.
Ia menambahkan, pembentukan mindset, karakter, dan sikap siswa juga terus dilakukan melalui kegiatan kolaboratif, seperti gotong royong pengecatan sekolah. Cat dan peralatan disediakan oleh pemerintah melalui anggaran perubahan, sementara prosesnya dilakukan oleh siswa.
“Pendidikan di Kalimantan Tengah bisa dan harus kita tingkatkan. Ini tugas kita bersama, dan semua harus bergerak,” tutup Reza Prabowo.
(vi/matakalteng)





















Discussion about this post