PALANGKA RAYA – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalteng Rihando menyampaikan pertumbuhan ekonomi Kalteng pada tahun 2020 berada pada level cukup baik.
Meski pada awal triwulan II dan III ekonomi Kalteng mengalami kontraksi, namun pertumbuhan ekonomi Kalteng secara keseluruhan masih lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi regional di Pulau Kalimantan dan nasional.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi pada masa pandemi tidak dapat dihindari. Sejalan dengan itu, inflasi sampai 2 November 2020 relatif rendah dan stabil. Inflasi Kalteng pada bulan Oktober 2020 tercatat 1,19% (yoy) lebih rendah dari inflasi nasional 1,59 % (yoy) dan inflasi Pulau Kalimantan 1,31% (yoy).
Relatif terjaganya pasokan logistik dan terkendalinya ekspektasi masyarakat menjadi kunci stabilnya inflasi pada masa pandemi. Rihando menyampaikan apresiasi atas peran aktif dan komitmen Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota.
“Kami menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya pada seluruh anggota TPID, Satgas Pangan, Bulog, dan seluruh instansi yang telah mendukung stabilitas harga di Kalteng pada masa pandemi,” ucap Rihando, 5 Desember 2020.
Momentum pemulihan ekonomi nasional terus didorong melalui penguatan sinergi membangun optimisme oleh semua pihak balk Pemerintah (Pusat dan Daerah), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan dan berbagai pihak lainnya.
Sementara stu, Perry Warjiyo, Gubernur BI dalam kesempatan yang sama mengungkapkan optimisme pemulihan ekonomi nasional pada tahun 2021 dapat terwujud melalui 1 prasyarat dan 5 strategi. Satu prasyarat tersebut adalah vaksinasi dan disiplin protokol Covid-19, dan 5 strategt respons kebyakan antara lain : 1) pembukaan sektor produktif dan aman, 2) percepatan st mulus f skal (realisasi anggaran), 3) peningkatan kredit dari Sis! permintaan dan penawaran, 4) stimulus moneter dan kebyakan makroprudensial, dan 5) digitalisas: ekonomi dan keuangan, khususnya UMKM.
“Pemulihan ekonomi nasional yang tengah berlangsung saat ini, diprakirakan semakin meningkat Pada tahun 2021, ekonomi Indonesia diprakirakan tumbuh mencapai 4,8-5,8%, yang didukung oleh peningkatan kinerja ekspor, konsumsi swasta dan pemerintah, serta investasi baik dari belanja modal Pemerintah maupun dari masuknya PMA sebagai respons positif terhadap UU Cipta Kerja,” ujar Perry Pertumbuhan diprakirakan akan terjadi di seluruh wilayah, khususnya Jawa serta wilayah Sulawesi-Maluku-Papua.
Stabilitas makroekonomi terjaga dengan inflasi yang akan terkendali sesuai sasaran 3,1%, serta nilai tukar Rupiah yang akan bergerak stabil dan berpotensi menguat. Stabilitas eksternal terjaga, dengan surplus neraca pembayaran didukung defisit transaksi berjalan yang rendah di sekitar 1,0-2,0% PDB.
Stabilitas sistem keuangan juga semakin membaik, dengan rasio permodalan yang tinggi, NPL yang rendah, serta pertumbuhan DPK dan kredit yang masing-masing meningkat ke sekitar 7-9% pada 2021.
(vi/matakalteng.com)






















Discussion about this post