SAMPIT – Sejumlah pelajar dari SMAN 1 Sampit dan MAN Kotim berkolaborasi memproduksi film bertema perundungan berjudul “Ternyata Aku Korban”. Film ini menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional 2025 dan diputar perdana dalam sesi nonton bareng bersama pelajar serta anak-anak panti asuhan.
Destry Adelia, siswi SMAN 1 Sampit, menjadi pemeran utama yang memerankan karakter korban bullying. Ia mengaku terlibat penuh dalam proses produksi film yang hanya memakan waktu sekitar satu hingga dua minggu.
“Sebagai karakter utama, saya merasa film ini sangat dekat dengan kehidupan nyata. Perundungan itu bukan hal sepele, ini tindakan kriminal yang bisa berdampak besar pada masa depan seseorang. Harapan saya, semoga kita semua lebih sadar dan peka terhadap persoalan ini,” ucap Destry, Kamis 7 Agustus 2025.
Film ini digarap oleh total 13 pelajar sebagai pemeran, serta 2 kru yang bertugas di balik layar. Para aktor berasal dari SMAN 1 Sampit, sementara kameramen dan editor berasal dari MAN Kotim.
Setelah rampung, film langsung diputar dalam kegiatan nonton bareng untuk menyebarkan pesan moralnya kepada generasi muda.
Pemeran lainnya, Zenzia Taulina S dari SMAN 1 Sampit, berperan sebagai sahabat dari tokoh utama. Ia mengungkapkan bahwa perannya mengajarkan pentingnya keberanian untuk membela diri.
“Karakter saya, Zia, adalah teman dekat tokoh utama. Saya berusaha menasihatinya untuk berani melawan bullying. Karena semua pemerannya sebaya, kami sangat bisa menghayati cerita ini, bahkan ada yang pernah jadi korban atau menyaksikan langsung,” ungkap Zenzia.
Zenzia juga terlibat dalam penulisan naskah dan pemilihan aktor. Ia menyebut pengalaman ini sangat berharga, mengingat sebelumnya ia hanya pernah menulis karya ilmiah dan bermain teater di sekolah.
“Film ini punya pesan kuat: jangan melakukan bullying. Masalah ini sangat krusial di kalangan remaja. Kita harus saling menjaga agar hidup di lingkungan yang membahagiakan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kotim, M. Irfansyah, mengapresiasi karya pelajar yang tergabung dalam komunitas pembuat film pendek berjudul “Ternyata Aku Korban”. Film yang mengangkat isu perundungan ini dinilai sebagai media edukasi efektif bagi kalangan siswa.
“Hari ini kita menyaksikan langsung kreasi anak-anak dari beberapa sekolah di Kotim. Mereka tampil luar biasa lewat film pendek yang judulnya Ternyata Aku Korban. Ini bukan sekadar tontonan, tapi juga bentuk edukasi yang sangat relevan,” kata Irfansyah.
Ia menjelaskan, ide kegiatan ini lahir dari diskusi bersama komunitas pembuat film, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan.
Sebagai Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP), Irfansyah menilai pentingnya film ini ditonton bersama oleh pelajar secara langsung, meskipun filmnya juga telah tayang di platform YouTube.
“Anak-anak ini awalnya datang sebagai komunitas biasa, lalu berdiskusi dengan saya. Saya langsung menyambut baik. Kami fasilitasi agar karya mereka bisa ditonton lebih luas, khususnya oleh siswa sekolah. Apalagi isinya sangat edukatif tentang perundungan,” jelasnya.
Irfansyah juga mengimbau para siswa agar tidak meniru perilaku bullying seperti yang digambarkan dalam film. Menurutnya, banyak anak yang tanpa sadar melakukan perundungan dalam bentuk candaan yang bisa menyakiti mental temannya.
“Tadi saya tanya ke penulis ceritanya, ternyata itu berdasarkan kejadian sehari-hari. Kadang anak-anak ini niatnya cuma bercanda, tapi ternyata kena mental temannya. Misalnya, menyinggung kondisi rumah, atau hal-hal pribadi lainnya. Itu harus dihindari,” tegasnya.
Ia berharap, setelah menonton film ini, para siswa bisa mengambil hikmah dan menjadi lebih peka terhadap perasaan teman.
“Jangan jadi pelaku bullying. Kalau melihat ada teman jadi korban, jangan diam, laporkan! Anak-anak harus berani bersuara,” pesannya.
Sebagai informasi, film semacam ini bisa diikutsertakan dalam lomba festival seni dan sastra di jenjang SLTA. Irfansyah menyebut karya seperti ini perlu terus difasilitasi agar semangat kreatif dan peduli sosial di kalangan pelajar terus tumbuh.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post