SAMPIT – Kondisi Taman Miniatur Budaya Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur kembali menjadi perhatian publik. Kawasan yang semestinya menjadi etalase keberagaman budaya dan simbol keharmonisan antarsuku itu kini tampak kurang terawat, dengan sejumlah bangunan rumah adat mengalami kerusakan bahkan terbengkalai.
Sorotan tajam datang dari Ketua DPRD Kotawaringin Timur, Rimbun. Ia menilai, minimnya perhatian terhadap taman budaya tersebut bukan sekadar persoalan fisik bangunan, tetapi menyentuh nilai identitas dan harga diri daerah yang menjunjung tinggi keberagaman.
“Kalau kita bicara kearifan lokal, kondisi taman miniatur itu sangat memprihatinkan. Seolah tidak ada perhatian sama sekali. Padahal ini menyangkut harga diri masyarakat Dayak dan keharmonisan semua suku yang hidup di Kotim,” tegas Rimbun, Kamis 19 Februari 2026.
Menurutnya, taman miniatur yang menampilkan berbagai rumah adat—mulai dari Betang, Banjar, Bali, hingga Madura—merupakan representasi nilai persatuan.
Namun saat ini, beberapa bangunan terlihat rusak, bahkan ada yang hampir hancur. Kondisi tersebut dinilai tidak sebanding dengan makna historis dan simbolik yang dikandung kawasan itu, terutama sebagai lambang kebersamaan pasca konflik sosial yang pernah terjadi di daerah ini.
“Ini wajah keharmonisan Kotim. Kita sering menggaungkan nilai Dayak dan kebersamaan, tapi aset budaya seperti ini justru terabaikan. Seharusnya kita jaga bersama,” ujarnya.
Rimbun menyampaikan, DPRD berencana mengusulkan kepada pemerintah daerah agar rehabilitasi taman budaya segera diprogramkan. Ia menilai perbaikan tidak harus seragam, melainkan disesuaikan dengan tingkat kerusakan, baik melalui rehab ringan, sedang, maupun berat.
Namun demikian, keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, ia mendorong adanya sinergi dengan dunia usaha melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang beroperasi di Kotim.
“Kalau hanya mengandalkan APBD tentu berat. Lebih baik program CSR perusahaan kita arahkan untuk membantu rehabilitasi taman miniatur ini. Tahun ini harus mulai ditangani,” katanya.
Ia bahkan mengusulkan agar kepala daerah mengundang perusahaan-perusahaan, khususnya di sektor kayu dan perkebunan sawit, untuk berkolaborasi sesuai kapasitas masing-masing.
“Perusahaan kayu bisa membantu material, perusahaan sawit bisa menyesuaikan dukungan teknis. Yang penting ada komitmen bersama,” tambahnya.
Sebagai bentuk kepedulian pribadi, Rimbun mengaku telah memberikan bantuan awal berupa mesin pemotong rumput, racun rumput, serta alat semprot untuk mendukung perawatan kawasan tersebut. Langkah itu dilakukan sembari mendorong dinas teknis melakukan pemetaan bangunan mana yang membutuhkan perbaikan total dan mana yang cukup direhabilitasi ringan.
“Ini agar kawasan tetap terjaga sambil kita menunggu program besar berjalan,” ungkapnya.
Ia berharap, setelah seluruh bangunan direhabilitasi, pemerintah daerah dapat kembali menghidupkan kegiatan adat dan budaya di kawasan tersebut, seperti ritual mamapas lewu, sebagai simbol kebersamaan dan semangat merawat keberagaman di Bumi Habaring Hurung.
Gagasan perbaikan taman budaya melalui dukungan CSR ini, lanjut Rimbun, juga mendapat sambutan positif dari Perajah Motanoi. Dukungan tersebut diharapkan menjadi penguat agar upaya penyelamatan Taman Miniatur Budaya Sampit dapat segera terealisasi dan kembali menjadi ruang kebanggaan bersama masyarakat Kotim.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post