SAMPIT – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengaku belum dapat bergerak maksimal dalam persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Tengah Tahun 2026. Hingga kini, anggaran hibah daerah untuk KONI belum juga dicairkan, sehingga proses seleksi atlet dan persiapan cabang olahraga (cabor) masih tertahan.
Ketua Umum KONI Kotim periode 2025–2029, Alexius Esliter, mengungkapkan kondisi tersebut saat mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD Kotim yang membahas pengelolaan hibah daerah untuk KONI serta kesiapan menghadapi Porprov 2026.
“Ini sebenarnya merupakan rapat kedua yang kami sampaikan. Untuk kepengurusan, kami masih dalam proses pengajuan pergantian bendahara karena yang lama mengundurkan diri,” ujarnya, Kamis 19 Februari 2026.
Alexius menjelaskan, saat ini KONI Kotim tengah mengajukan Ibu Rini sebagai bendahara dan Aris Wibowo sebagai wakil bendahara, yang masih dalam proses administrasi. Selain itu, posisi Wakil Ketua I juga diusulkan diisi oleh Johny Tangkere.
Di tengah proses internal tersebut, KONI Kotim belum menerima pencairan anggaran sama sekali, sehingga tidak bisa melakukan langkah teknis persiapan.
Menurutnya, kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat Kotim selama ini dikenal sebagai barometer olahraga di Kalimantan Tengah. Pada Porprov sebelumnya, Kotim berhasil keluar sebagai juara umum. Namun, untuk Porprov 2026, KONI Kotim justru berada dalam posisi tertinggal dibandingkan kabupaten lain yang sudah lebih siap secara anggaran.
“Kami sempat bertanya dengan pengurus KONI kabupaten lain. Contohnya Kabupaten Barito Utara, anggaran mereka sampai Rp8 miliar. Sementara kita di Kotim sampai sekarang belum jelas anggarannya,” ungkap Alexius.
Ia pun mempertanyakan apakah masih ada trauma masa lalu yang membuat pencairan anggaran menjadi lambat. Kondisi tersebut berdampak langsung pada persiapan atlet.
Hampir setiap hari, para ketua cabor mendatangi KONI Kotim untuk menanyakan kepastian persiapan Porprov. Alexius menyebut, KONI sebenarnya telah meminta daftar atlet dari masing-masing cabor. Namun, untuk mendapatkan data atlet yang valid, setiap cabor harus melakukan seleksi terlebih dahulu, dan seleksi itu membutuhkan anggaran.
“Kalau anggaran masuk, kita langsung lakukan seleksi dengan semua cabor yang sudah siap. Pendaftaran cabor Porprov sudah dibuka mulai 2 Februari sampai 10 April 2026,” jelasnya.
Karena itu, kesiapan Kotim sepenuhnya bergantung pada kepastian anggaran dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), mengingat KONI berada di bawah Dispora.
Ia juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan Porprov 2026 sebenarnya telah ditetapkan oleh pemerintah provinsi sejak November tahun lalu. Namun, informasi tersebut dinilai terlambat tersampaikan ke tingkat kabupaten. Porprov 2026 sendiri akan digelar di Kabupaten Kotawaringin Barat.
Alexius menegaskan, lambannya pergerakan KONI selama ini bukan karena kurangnya komitmen, melainkan karena belum adanya anggaran yang masuk. Dengan adanya RDP bersama DPRD Kotim, ia merasa lebih mantap karena kejelasan anggaran kini memiliki dasar hukum yang jelas.
“Ranah KONI itu pembinaan, sedangkan anggaran ada di Dispora. Selama ini Dispora belum berani mencairkan karena belum jelas. Dengan RDP ini, semuanya sudah jelas karena ini produk hukum,” tegasnya.
Meski demikian, KONI Kotim memastikan tetap akan mengikuti Porprov 2026. Namun, jumlah cabor yang diikutsertakan nantinya akan disesuaikan dengan skala prioritas dan kemampuan anggaran. Alexius tetap optimistis Kotim mampu bersaing dan mempertahankan prestasi.
“Untuk optimis, saya melihat semangat kawan-kawan cabor masih sangat tinggi. Juara itu tergantung dari semangat mereka, dan saya lihat semangat itu masih ada,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post