SAMPIT – Permasalahan banjir yang kerap melanda kawasan Jalan Pelita, terutama di wilayah Pelita Timur, kembali menjadi sorotan serius DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Jalur padat kendaraan tersebut sering tergenang setiap kali hujan deras, bahkan mengganggu aktivitas warga dan kegiatan belajar di sekolah sekitar.
Anggota Komisi IV DPRD Kotim, Modika Latifah Munawarah, menilai pemerintah daerah harus mengambil langkah komprehensif, tidak hanya memperbaiki permukaan jalan, tetapi juga membenahi sistem drainase agar masalah tidak berulang.
“Perlu diperhatikan bahwa banjir di kawasan Pelita Timur bukan hanya karena jalan rusak, tapi sistem drainasenya juga sudah tidak berfungsi baik. Jadi kalau hanya ditingkatkan permukaan jalannya tanpa memperhatikan saluran airnya, nanti akan tetap banjir,” ujar Modika, Selasa 21 Oktober 2025.
Ia menekankan pentingnya perencanaan terpadu antara pekerjaan jalan dan saluran air, mengingat kawasan Pelita dan sekitarnya merupakan jalur utama dengan arus kendaraan yang tinggi. “Kami mendorong agar drainase dibangun bersamaan dengan peningkatan jalan. Kawasan itu ramai, dan saat banjir bisa membahayakan pengguna jalan,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim, Mentana Dhinar Tistama, memastikan pemerintah daerah sudah menyiapkan langkah khusus untuk mengatasi persoalan banjir di kawasan tersebut.
“Untuk Jalan Pelita, fokus kami memang pada pengendalian banjir. Jadi kegiatan yang disiapkan bukan hanya perbaikan badan jalan, tapi pembangunan sistem drainase baru,” kata Mentana. Menurutnya, salah satu penyebab utama banjir di kawasan Sampit, termasuk di Jalan Pelita, adalah keterbatasan saluran pembuangan air menuju Sungai Mentaya.
Karena itu, pihaknya tengah merancang jalur baru yang bisa menampung debit air lebih besar dari kawasan padat penduduk menuju sungai. “Kami sedang mengkaji sistem drainase bawah tanah yang terhubung langsung ke Sungai Mentaya. Dengan begitu, air hujan tidak lagi tertahan di jalan. Untuk tahap awal, kami akan mulai di Jalan Pelita karena itu titik paling sering terdampak,” jelasnya.
Rencana pembangunan drainase besar ini, lanjut Mentana, sudah dimasukkan ke dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Tahun 2026 dengan estimasi pagu sebesar Rp7 miliar. Ia berharap rencana tersebut dapat disetujui agar segera terealisasi pada tahun depan. “Kalau disetujui, tahun 2026 nanti kita sudah bisa mulai pekerjaan fisiknya. Target kami bukan hanya mempercantik jalan, tapi juga memastikan kawasan Pelita bebas genangan air,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post