SAMPIT – Anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Hendra Sia, menilai persoalan banjir yang kerap melanda wilayah utara harus dicari solusi jangka panjang. Salah satu langkah yang bisa dipertimbangkan adalah relokasi warga dari bantaran sungai ke tempat yang lebih aman.
“Harus ada solusi jangka panjang, karena setiap kali curah hujan tinggi masyarakat selalu jadi korban. Pemerintah perlu lebih serius memberi edukasi sekaligus menyediakan lokasi relokasi yang layak,” kata Hendra, Selasa 16 September 2025.
Ia mengakui, relokasi bukanlah hal mudah. Sebab, sebagian besar warga di desa-desa seperti Tumbang Mujam dan Merah sudah turun-temurun bergantung pada sungai untuk kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendekatan persuasif dan edukasi menjadi syarat penting agar masyarakat bersedia pindah.
Meski demikian, politisi dari Dapil V itu menegaskan penanganan darurat tetap harus dilakukan. Pemerintah daerah bersama BPBD diminta segera menginventarisasi dampak banjir yang melanda tujuh kecamatan meliputi 20 desa di utara Kotim.
“Pemerintah daerah harus turun bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) selaku leading sector untuk menginventarisasi dampak banjir, lokasi mana saja yang terdampak, imbasnya kepada masyarakat, serta solusi seperti bantuan dan sebagainya,” ujarnya.
Hendra menambahkan, pendataan lapangan juga penting untuk memetakan kerusakan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan. Ia mencontohkan kondisi di Desa Tanjung Harapan yang perlu segera ditangani agar mobilitas warga tidak terhambat.
Berdasarkan data BPBD Kotim, banjir mulai melanda sejak Kamis 11 September akibat intensitas hujan tinggi yang menyebabkan meluapnya sungai. Ketinggian air tercatat antara 20 hingga 90 sentimeter, dengan kondisi terdalam terjadi di Desa Beringin Tunggal Jaya, Kecamatan Parenggean.
Meski akses jalan banyak yang terganggu, hingga kini belum ada laporan warga yang mengungsi. Hendra menekankan, hal ini tidak boleh membuat pemerintah menganggap remeh persoalan banjir yang hampir setiap tahun melanda daerah utara.
“Wilayah utara memang rawan banjir dan kondisi ini hampir selalu terjadi. Meski sebagian masyarakat sudah terbiasa, inventarisasi tetap perlu dilakukan agar dampaknya bisa diminimalisir,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post