SAMPIT – Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Rimbun mengingatkan agar masyarakat yang berkonflik di wilayah irigasi Desa Luwuk Bunter Kecamatan Cempaga jangan sampai mudah diprovokasi. Hal ini disampaikannya menanggapi rekaman video yang viral berisikan perdebatan panas antara warga.
“Saya tekankan jangan mau diadu domba jangan sampai sesama ada gesekan sesama masyarakat,”kata Rimbun, Kamis 27 Februari 2025.
Dia menegaskan juga kepada pihak perusahaan untuk tidak main-main dengan persoalan ini atau mencoba mengadu domba warga.
“Jangan sampai ini seperti masyarakat sengaja dibenturkan. Dan perusahaan jangan masuk di pusaran konflik warga dan jangan memaksa diri di lokasi itu karena pasti akan jadi konflik lagi dimasa mendatang. Apakah perusahaan dalam hal ini berani tanggungjawab,” tegasnya.
Sebelumnya, sempat viral rekaman video sekelompok orang bersama dengan manajemen suatu perusahaan sedang mendatangi ibu yang tengah berada di areal perkebunan.
Aster Yansen salah satu warga yang memiliki tanah di areal itu mengungkapkan kejadian itu pada 26 Februari 2025 pagi hari. Saat itu warga tersebut sedang asik bercocok tanam di areal kebun. Namun tiba-tiba saja dihampiri sekelompok orang yang mengaku sebagai pemilik lahan tersebut.
Di situ terjadi perdebatan panas antara warga dengan kelompok perusahaan ini. Beruntungnya tidak ada kontak fisik.
Sementara dalam rekeman yang berdurasi 3 menit 21 detik itu tampak pemilik lahan itu didatangi dan terlibat dalam perdebatan dengan pihak tersebut.
Video ini pun sampai ke tangan sejumlah pejabat tinggi di Kotim. Diantaranya sampai ke Ketua DPRD Kotim Rimbun dan menyebutkan ini berpotensi menimbulkan konflik sesama masyarakat di lapangan.
Terlepas apapun di balik persoalan itu dia menekankan jangan sampai ada gesekan di lapangan sesama masyarakat.
Terpisah, Tobing salah satu warga mengklarifikasi kejadian itu. Menurutnya saat kejadian tidak ada intimidasi hingga ancaman kekerasan. Memang saat itu mereka terlihat membawa senjata tajam, namun hal itu adalah hal lumrah bagi mereka sebagai seorang petani.
“Tidak ada kekerasan tidak ada ancaman jadi memang ada perdebatan karena memang lokasi itu bersengketa dan kami maksud jangan dulu beraktivitas menanam di atas lahan tersebut tetapi justru respon mereka ibu itu kurang komunikatif,”ungkapnya.
Dirinya menyayangkan juga rekaman video itu beredar luas sehingga menggiring opini yang kurang baik bagi pihaknya.
Soal areal lahan itu kata dia memang belakangan menjadi sengketa antara kelompok warga.
“Tujuan kami yaitu mengingatkan untuk tidak melakukan aktivitas diatas lahan yang sudah digarap tersebut sembari menunggu penyelesaian oleh pihak perusahaan,” tutupnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post