SAMPIT – Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kotawaringin Timur Alang Arianto menyampaikan, salah satu alasan turunnya Dana Bagi Hasil (DBH) sawit pada 2025 ini lantaran pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Kotim juga mengalami penurunan.
“Di 2024, pertumbuhan di bidang pertanian, khususnya perkebunan, tercatat minus 0,19%. Melihat angka ini, wajar jika DBH sawit kita juga menurun drastis,” kata Alang Arianto, Kamis 27 Februari 2025.
Disebutkannya, pada 2023, Kotim menerima DBH sawit sebesar Rp46 miliar. Angka ini turun menjadi Rp41 miliar pada 2024 dan kembali turun drastis menjadi Rp16 miliar pada 2025 atau lebih dari setengah pengurangan.
“Meski Kotim dikenal sebagai daerah dengan lahan kelapa sawit terbesar di Kalimantan Tengah, mencapai hampir 460.000 hektare, namun produksi sawit menghadapi tantangan serius,”tegasnya.
Salah satunya adalah banyaknya perusahaan kelapa sawit di Kotim melakukan replanting atau peremajaan tanaman dalam skala besar. Proses ini membuat produksi sawit menurun karena tanaman yang baru ditanam belum menghasilkan.
“Kemudian konflik lahan antara perusahaan dan masyarakat juga menjadi faktor yang turut mempengaruhi, seperti adanya pemortalan dan klaim lahan membuat perusahaan tidak bisa memanen kelapa sawit, dan menyebabkan produksi sawit juga berkurang,”ungkapnya.
Tambahnya, DBH sawit dihitung berdasarkan hasil produksi perkebunan, bukan dari luas Hak Guna Usaha (HGU). Oleh karena itu, setiap gangguan yang memengaruhi produksi akan berdampak langsung pada jumlah DBH yang diterima daerah.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post