SAMPIT – Frekuensi penerbangan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat masih terbatas, padahal kebutuhan masyarakat terhadap transportasi udara cukup tinggi.
“Sehingga banyak warga akhirnya memilih bepergian melalui bandara di daerah lain seperti Palangka Raya dan Kotawaringin Barat. Padahal ini merupakan pendapatan yang cukup besar bagi daerah,” kata Ketua DPRD Kotim, Rinie Anderson, Sabtu 29 Oktober 2022.
Untuk itu ia mendukung pengembangan bandara agar ditingkatkan, salah satunya untuk panjang landasan pacu udara yang saat ini panjang landasan pacu atau “runway” bandara di Sampit sepanjang 2.040 meter dengan lebar 30 meter.
“Perpanjangan landasan pacu diharapkan bisa dilakukan menjadi 2.500 meter sehingga bandara ini bisa didarati pesawat berbadan lebar. Selain itu, bandara Haji Asan Sampit diharapkan bisa didarati pesawat jenis Boeing 737-800NG berkapasitas 189 tempat duduk, bahkan jenis Boeing 737-900ER berkapasitas 195 hingga 215 penumpang,” ungkapnya.
Pengembangan dan peningkatan Bandara Haji Asan Sampit merupakan kebutuhan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi udara. Keberadaan bandara turut menunjung aktivitas perekonomian masyarakat.
“Dengan demikian penerbangan bisa lebih banyak mengangkut penumpang, dan kegiatan ekonomi masyarakat di Kotim juga semakin cepat perputarannya karena perjalanan mereka dalam hal untuk bisnis dan lainnya bisa berjalan lancar dan cepat,” tegasnya.
(dia/matakalteng.com)






















Discussion about this post