PALANGKA RAYA – Memasuki bulan suci Ramadan dan Idul Fitri, potensi kenaikan harga bahan pokok kembali menjadi perhatian. Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Tengah, Agie, meminta pemerintah daerah memperketat pengawasan distribusi guna mencegah lonjakan harga yang memberatkan masyarakat.
Menurut Agie, kenaikan harga pangan hampir selalu terjadi setiap mendekati hari besar keagamaan. Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah perlu mengambil langkah antisipatif sejak dini. “Setiap mendekati hari besar keagamaan, khususnya Ramadan dan Idul Fitri, harga bahan pokok hampir selalu mengalami kenaikan. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat 20 Februari 2026.
Dia menekankan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan ketersediaan stok di tingkat distributor maupun distributor besar. Peran Dinas Perdagangan dan Perindustrian dinilai krusial dalam menjamin pasokan tetap aman. Selain itu, Dinas Perhubungan diminta memastikan kelancaran distribusi, mengingat Kalimantan Tengah mengandalkan dua jalur utama transportasi, yakni darat dan sungai.
“Keduanya harus dipastikan lancar. Jika ada jalan rusak, segera diperbaiki agar distribusi bahan pangan tidak terhambat,” katanya. Apabila harga tetap melonjak, Agie menyarankan dua intervensi pemerintah, yakni operasi pasar dan pasar penyeimbang. Melalui operasi pasar, pemerintah membeli barang dari distributor besar lalu menjualnya ke masyarakat dengan harga distributor, sementara selisih harga ditanggung melalui subsidi.
“Pasar penyeimbang mekanismenya hampir sama, pemerintah masuk untuk menstabilkan harga dengan menanggung selisih agar harga tidak melonjak tinggi,” jelasnya. Dia menilai langkah tersebut penting untuk menekan potensi inflasi di daerah. Berdasarkan pengalamannya sebagai bagian dari Tim Pengendali Inflasi Daerah serta pernah menjabat sebagai kepala BPS di beberapa daerah, pengawasan distribusi menjadi faktor penentu.
“Permainan harga biasanya bukan di tingkat petani, melainkan di distributor. Pemerintah harus berani masuk dan mengawasi distributor besar. Kalau ada penimbunan atau permainan harga, harus ditindak tegas sesuai undang-undang,” tegasnya. Komoditas yang rawan mengalami kenaikan menjelang Lebaran antara lain cabai, daging ayam, telur, minyak goreng, beras, serta LPG.
Menurutnya, harga acuan pemerintah sebenarnya tidak berubah, namun lonjakan kerap terjadi di jalur distribusi. “Intinya, pemerintah harus fokus pada pengawasan distribusi dan stabilisasi harga agar masyarakat tidak terbebani saat menghadapi Ramadan dan Idul Fitri,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post