PALANGKA RAYA — Minimnya layanan dasar di sejumlah wilayah Barito Selatan kembali menjadi perhatian Anggota Komisi I DPRD Kalimantan Tengah, Dapil IV, Purdiono. Dalam reses terbarunya, ia menemukan masih terdapat desa yang belum menikmati listrik 24 jam, akses telekomunikasi tidak stabil, serta infrastruktur jalan yang tertinggal meski daerah tersebut merupakan penghasil sumber daya alam (SDA).
Menurut Purdiono, beberapa desa seperti Ranggailung, Mengkatip, dan Baru Selatan hingga kini hanya merasakan listrik pada malam hari. “Belum bisa menikmati listrik 24 jam, itu ironis dibandingkan dengan perputaran sumber daya alam, tapi masyarakat masih belum bisa menikmati listrik satu kali 24 jam,” ujarnya, Minggu 23 November 2025. Dia menegaskan bahwa kondisi tersebut sangat tidak sebanding dengan besarnya aktivitas ekonomi dari sektor SDA di wilayah tersebut.
Padamnya listrik berdampak langsung pada jaringan telekomunikasi. “Kalau listriknya mati, dari mana jaringan telekomunikasi bisa berjalan? Semuanya bergantung pada listrik,” tegasnya. Gangguan ini tidak hanya memengaruhi komunikasi masyarakat, tetapi juga aktivitas layanan publik, sekolah, hingga darurat medis. Purdiono juga mengkritisi aktivitas tongkang pengangkut SDA yang lalu-lalang melalui sungai Barito, namun tidak diimbangi peningkatan pendapatan daerah.
“Kita punya sumber daya alam yang diekspor, dan hasil ekspor itu semestinya ada yang dikembalikan ke daerah lagi. Tapi kita hanya menjadi penonton,” katanya. Dia menyebut ketidaksesuaian antara potensi SDA dan kesejahteraan masyarakat sebagai kondisi yang “tidak linier dengan variabel kesejahteraan”. Selain listrik dan sinyal, akses transportasi juga menjadi masalah serius.
Purdiono mencontohkan Kelurahan Bangkuang yang hingga kini tidak memiliki jalan tembus dan harus memutar lewat Batim. Desa-desa seperti Teluk Betung, Jenamas, dan Ranggailung bahkan tidak memiliki akses darat sama sekali dan sepenuhnya bergantung pada jalur sungai. “Ironis sekali, daerah penghasil sumber daya alam tapi tidak memiliki infrastruktur dasar,” katanya.
Purdiono mendesak pemerintah pusat dan provinsi mempercepat pembangunan jalan dan jembatan yang menjadi struktur utama konektivitas wilayah. “Kita berharap kerangka-kerangka jalan itu, termasuk jembatan yang masih belum selesai, bisa diselesaikan sehingga masyarakat dapat menikmati manfaatnya,” tutupnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post