PALANGKA RAYA – Program cetak sawah nasional di Kabupaten Kotawaringin Timur terungkap realisasinya baru mencapai sekitar 10 persen dari total target yang diajukan. Pari lebih dari 4.000 hektare yang diusulkan, hanya 405 hektare yang berhasil dicetak di Desa Handil Sohor, Samuda, Kotim.
Mandeknya pekerjaan membuat petani kecewa. Kontrak kerja berakhir sebelum target tercapai, dan seluruh alat berat sudah ditarik dari lokasi. Hal itu disampaikan Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Tengah, Sutik, usai menerima banyak keluhan dari masyarakat saat melakukan reses di daerah pemilihannya (Dapil II Kotim–Seruyan).
“Di Kotim kemarin memang diajukan 4.000 hektare lebih. Tapi karena kontraknya tidak selesai, hanya 405 hektare yang tercetak. Yang sudah tercetak itu sudah ditanami,” ujarnya, Minggu 23 November 2025. Menurut Sutik, pekerjaan terhenti karena alat berat dipulangkan begitu masa kontrak selesai. “Program ini kan dari pusat. Kemarin alatnya diangkut semua, jadi baru tercetak 405 hektare,” jelasnya.
Meski demikian, Sutik berharap hasil yang sudah dicapai dapat menjadi pertimbangan agar pemerintah pusat kembali menurunkan bantuan. “Dicoba dulu mudah-mudahan yang 400 itu nanti berhasil, dan pusat bisa menambah bantuan lagi untuk ketahanan pangan Kalteng,” katanya.
Legislator Gerindra ini menilai hasil cetak sawah di Desa Handil Sohor, Samuda cukup baik dan layak dilanjutkan. “Dulu itu hutan, sekarang dicetak. Saya lihat bagus, mudah-mudahan cocok lah di sana,” ucapnya. Dalam reses sebelumnya, Sutik juga mencatat sejumlah hambatan yang dialami petani, terutama akses menuju lahan.
“Keluhannya cuma jalan. Jalan menuju lokasi sawah belum bisa dilalui roda empat. Jadi kalau angkut pupuk atau bibit itu lewat klotok,” ungkapnya. Kondisi itu membuat biaya angkut melonjak dan membebani petani. “Klotok itu tidak bisa bawa muatan banyak,” tambahnya. Selain akses, petani juga dirugikan karena bibit bantuan dari pusat datang terlambat hingga tidak dapat digunakan.
“Bibit itu datangnya kelamaan, jadi sudah lapuk. Petani akhirnya beli sendiri,” kata Sutik. Ia juga menyoroti minimnya regenerasi petani. “Anak muda belum ada yang terjun. Program jagung kemarin ada, dan kita harap berhasil,” ujarnya. Sutik mengatakan sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut lebih memilih menanam kelapa sawit dibandingkan tanaman pangan.
“Kalau sawit, mau semua,” katanya. Terkait kelanjutan program cetak sawah, Sutik menegaskan masih menunggu kejelasan dari pemerintah pusat. “Ini kan program pusat. Saya belum tahu pasti kelanjutannya seperti apa. Nanti kami coba koordinasi lagi. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post