Pemuda Mabuk Kecubung, Rusaknya Generasi Dalam Sistem Sekulerisme

Oleh: Safwatera Weny ***

Setelah judi online, kini pemuda viral mabuk kecubung, seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan kota Banjarmasin. Puluhan warga mabuk kecubung, 44 orang dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) bahkan di antaranya dua orang dilaporkan meninggal. Kedua korban diketahui mengoplos kecubung dengan alkohol dan obat-obatan. Yuddy menjelaskan Fenomena mabuk kecubung merupakan masalah yang serius.

Baca juga berita lainnya

Kepala kepolisian Resort kota Banjarmasin menghimbau, jika tanaman kecubung dikonsumsi dapat menyebabkan gangguan mental sementara atau permanen, para pelaku berbicara dengan kata-kata yang tidak jelas sebagai efek dari berhalusinasi ujarnya. Sementara itu, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Banjarmasin, Brigjen Pol Wisnu Andayana, mengatakan kecubung dalam undang-undang belum masuk sebagai bagian dari golongan narkotika dan psikotropika, sehingga pelaku dan pengedarnya belum bisa di hukum pidana. (Kompas.com 10/7/2024)

Sungguh miris, generasi mabuk-mabukan di negeri ini sudah menjadi kebiasaan pemuda. Tiada hari tanpa mabuk, mengonsumsi miras (alkohol) oplosan, mencampur miras dengan obat-obatan tertentu hingga tumbuhan kecubung. Berdasarkan survei pada tahun 2020 tren konsumsi dan pembelian minol (minuman alkohol) di Indonesia terdiri dari 4,9% Gen Z usia muda 15 – 24 tahun dan 6,7% generasi Milenial usia dewasa dari 25 – 34 tahun. Lantas mengapa pemuda hari ini mudah terjerumus pada kehidupan alkohol?

Dalam sistem kapitalisme sekulerisme yang hari ini diterapkan yakni sistem yang hanya mengejar keuntungan materi, memisahkan agama dari urusan kehidupan. Pemuda kehilangan jati diri sebagai seorang hamba untuk mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Dalam kapitalisme demokrasi sekuler, kebebasan berprilaku semakin di legalkan dengan budaya liberalisme atas nama Hak Asasi Manusia.

Pemuda merupakan agen perubahan dan pemimpin masa depan bangsa. Mabuk kecubung menunjukkan rusaknya generasi dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam menyelesaikan masalah hidup, adalah bukti lemahnya mental generasi. Lemah iman, dan lemah ilmu yang menjadikan pemuda hari ini jauh dari takwa.

Hal ini wajar terjadi, karena pemuda kehilangan arah tujuan hidup yang benar. Tujuan hidup manusia untuk beribadah kepada Allah dan meraih ridha Allah Swt, hal ini tidak tertanam pada pemikiran pemuda hari ini. Sebaliknya mereka teracuni dengan pemikiran kapitalisme sekulerisme, yang orientasi hanya mengejar kesenangan duniawi.

Mereka menganggap semakin bebas manusia bertingkah laku, tanpa diatur aturan tertentu maka hidup akan semakin bahagia. Hal ini menggambarkan cara pandang hidup yang rusak, kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam mencetak generasi berakhlak mulia, dan justru mencetak generasi dengan perilaku liberal.

Hidup hanya mencari kesenangan jasadiyah sebesar-besarnya, sehingga ketika mereja dihadapkan pada masalah hidup, konsumsi alkohol menjadi pelarian. Negara yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler melegalkan produksi dan distribusi, sebagai alasan sumber pemasukan bagi negara melalui pajak.

Sistem kapitalisme memandang, bahwa segala sesuatu yang mendapatkan keuntungan akan terus diproduksi, meski haram, membahayakan kesehatan dan menimbulkan kerusakan pada generasi muda. Maka, hal tersebut berbeda dengan sistem Islam, yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam kehidupan. Allah Swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُوَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِالشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (T.Q.S Al-Maidah:90)

Islam menutup celah produksi miras (alkohol), mulai dari pabrik, distributor, penjual hingga konsumen. Negara Khilafah akan menyelamatkan umat manusia dari barang haram, melalui tiga pilar yakni ketakwaan individu, dengan memiliki kesadaran diri sebagai hamba Allah dan memahami setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Islam memiliki sistem pendidikan berkualitas yang mampu mencetak generasi berkrepibadian Islam, bermental kuat dan produktif.

Selanjutnya pilar kontrol masyarakat, masyarakat dalam Khilafah adalah yang memahami syariat Islam. Masyarakat akan melakukan amar makruf dan nahi munkar yakni saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah kemaksiatan. Dan yang terakhir pilar negara, negara akan memberikan sanksi bagi pelaku maksiat.

Sanksi yang membuat efek jera bagi pelaku, dan mencegah orang lain melakukan perbuatan yang serupa (zawajir) dan jawabir yakni hukum Islam sebagai penebus dosa bagi pelaku di akhirat. Penduduk negeri yang beriman dan bertakwa akan menggunakan berbagai bahan alami secara bijak sesuai tuntunan syariat. Demikianlah Khilafah kebutuhan mendesak yang wajib kita terapkan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.

Allah Swt berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami,) maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. (T.Q.S Al-A’raf:90)

Wallahu’alam bi ash-showab

(Penulis merupakan tenaga pendidik di Kabupaten Kotawaringin Timur)

ad-space

Berita Terkait

Next Post
Banner

PILIHAN EDITOR

  • 317.000 Hektare Kebun Sawit Behasil Disita Satgas PKH
  • Keta"w.mg.com/da,da-kam TNI Ptamauerahgsu="rim/yi.com L%2Fw/-18/317Garu>317.000 Hektare Kebun Sawit Behasil Disita Satgas PKH
  • Tw-rp-335-jua-s/s://www.mat7">PT HMBP2024/0m/hukrim/2026Dide>Tw Rp 335 Jua-0-hektare-kebun-sawit-behasil-disita-satgas-pkh" data-num="04">317.000 Hektare Kebun Sawit Behasil Disita Satgas PKH
    emead/js//dsby","ads.js' })) { iv cl/ds.push({ defer: atak, ase64: atak, 379:_el//hemead2.","adsse6hrefion_
    emead/js//dsby","ads.js' }); } } else { iv cl/ds.push({ defer: atak, ase64: atak, 379:_el//hemead2.","adsse6hrefion_
    emead/js//dsby","ads.js' }); } }olor":"","aion_ove(/dsby","ads ="",ndow./dsby","ads || []).push({});olor":"","alt_color":""div>
    TDesa"> Ktmi80.9 3.8h39.1L151.1 ansu- 421.ansu- 421-><80.9 3.8h39.1L151.1 ansu- 421.ansu- 421->Kebij20da Privasi80.9 3.8h39.1L151.1 ansu- 421.ansu- 421->Keg_bk80.9 3.8h3/ulolor":""dule-preloader jeg_prel"class"or-mclass"lmclass"or-mclass"-9777894 "class"or-","css "class"or-","css-htmlta-adapt-co9777894ta-adapmclass"_>COPYRIGHT &deco; 2018st-i3 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.preloader jstyom/m"","e: #fff; feg_a-src: 10px; feg_awr-sis: bws_; marext=Top:-8px.coROUDLY POWERED BYount">3056TEKNO HOLISTIK80.9./div>
    op-abl","d"class"or-mclass"lmclass"or-mclass"-067e896ta-adapt-co067e896ta-adapmclass"_><"iv cla_"class"orta-adapt-co3aa248fta-adapmclass"_><"iv cla_"class"or.ustom":t, Sekolah dan"class"or-","css-jeg_block_title"_3"};
    op-olumn_clmclass"or-mclass"lmclass"or-mclass"-a1049eelmclass"or-hidde>-"ads_imlmclass"or-hidde>-4","paomclass"or-olumn_c-","goomclass"or-olumn_c-ur-sis-ustom": "class"or-olumn_c-ur-sis-ustom":ta-adapt-coa1049ee"o/www.mclass"_>op-abl","d"class"or-mclass"lmclass"or-mclass"-c4af976ta-adapt-coc4af976ta-adapmclass"_>TENTANG KAMIaat-b |  sa0styom/m"","e: #ffffff;hWarga Jadi Sorotan di Tengah Banjirrsdomngooktareet="","ank" tic="noopeRea">PEDOMANaat-b |  sa0styom/m"","e: #ffffff;hWarga Jadi Sorotan di Tengah Banjir isL15im>DISCLAIMERt Barse='preloader_typstyom/mfeg_a-src: 15px; feg_awr-sis: bws_; ring-//www: .matak; "","e: #fff;has.8L20styom/m"","e: #ffffff;hasa0styom/m"","e: #ffffff;hWarga Jadi Sorotan di Tengah Banjirkebij20daririvasiooktareet="","ank" tic="noopeRea">KEBIJAKAN PRIVASIaat-b |  sa0styom/m"","e: #ffffff;hWarga Jadi Sorotan di Tengah Banjir Desa">KONTAKt Barse='preloaderdule-preloader jeg_prel"class"or-mclass"lmclass"or-mclass"-645a7ca "class"or-","css "class"or-","css-htmlta-adapt-co645a7cata-adapmclass"_>oROUDLY POWERED BYount">3056TEKNO HOLISTIK80.9/div>
    op-abl","d"class"or-mclass"lmclass"or-mclass"-73cdba8ta-adapt-co73cdba8ta-adapmclass"_><"iv cla_"class"orta-adapt-coeff20c8ta-adapmclass"_><"iv cla_"class"or.ustom":t, Sekolah dan"class"or-","css-jeg_block_title"_3"};
    o->op "ads_ima-bulan-rama#tle"->o->op"jeg_prelo":"def->o->op":"disasil Disita Satgaatelehupsas3>Weloune Ble"!ktare-kebun-sawitiv cla-loextnews_mod_loext _phone"e-kebun-sawitiv cla-loextn 421-count">3056 3056 " nami_civ clanow.my"vlauea"6fa3cabb0_">alinput >-perker jeg_prelsher_id:"dis="hearfixa-bulan-rama#/>Forgott-ke-_prword?dan-kesadara8z"/-kesadaran-warga-js":"jcomaorgot8z"/s/kalteng.com-behp mfp-",th- art mfp-hids_preloader_circle_-behp8z"/ cle_-behping_t Behas8z"/ aumn_cma#/a-adap>RetrDeve your p_prwordktare-p>Phease matak your usernami or "clas addng&s to ng&>alinput >alinput >" nami_caumn_cy"vlauea"aorget_p_prword_=''dljehaalinput >" nami_civ clanow.my"vlauea"6fa3cabb0_">alinput >-perker jeg_prelsher_id:"dis="hearfixa-bulan-rama#/> evss".is":ss"Dstom":()); sansin-kisabls"clc" = ( evss" ) => evss".is":ss"Dstom":(); docuass"."",eclc"star" = -kisabls"clc"; sansin-kisabl_":ss"s ="['deco', 'cut', 'p_pte', 'drag', 'drop']; -kisabl_":ss"s.8z"Each( funumn_c( evss"_nami ) { docuass".addEvss"ara-eRea( evss"_nami, funumn_c (evss") { evss".is":ss"Dstom":() return eader; }); }); docuass".addEvss"ara-eRea("keydown", funumn_c (evss") { if ( evss".keyCpan === 123 || evss".ctrlKey && evss".shiftKey && evss".keyCpan === 67 || evss".ctrlKey && evss".shiftKey && evss".keyCpan === 73 || evss".ctrlKey && evss".shiftKey && evss".keyCpan === 74 || evss".ctrlKey && evss".shiftKey && evss".keyCpan === 75 ) { evss".is":ss"Dstom":() return eader; } if (evss".ctrlKey && evss".keyCpan === 85) { evss".is":ss"Dstom":() return eader; } if (evss".ctrlKey && evss".keyCpan === 80) { evss".is":ss"Dstom":() return eader; } if (evss".ctrlKey && evss".keyCpan === 44) { evss".is":ss"Dstom":() return eader; } }); if ( _modof ",ndow.devtools !== 'ILIgfined' && ",ndow.devtools.isOp-ke) { DevToolsIsOp-k(); ",ndow./ddEvss"ara-eRea('devtoolss=''ge', evss" => { if ( evss".detlas.isOp-ke) DevToolsIsOp-k(); }); } funumn_c DevToolsIsOp-k() { if ( re"> -1e) return eader; rlaydoc_html = docuass".getEclass"sByTagName(chtml")[0]; doc_html.s"clc"-timu-
    s"clc"m%2Fpe .com%2Fpenbuttoat,"abuttoa">s"clc"as PKH hare="Pemu>Mabukt">/kcubu="e-count"poknyaareGeReaasian Dtlaa/span>421/spaekulerismetaasil Disita Satgaebook_pa-offi clasas3>s"clc"as PKH hare="Pemu>Mabukt">/kcubu="e-count"poknyaareGeReaasian Dtlaa/span>421/spaekulerismen> class="share-count">taasil Disita Satgaass="jehas.imur%2F2024%2F02%2F27%2Fini-jadwal-libur-siswa-saat-bulan-ramadhan" class="jeg_share_tw">
    3056