• Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman
  • Kontak
Selasa, 9 Juni 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Mata Kalteng
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini
Mata Kalteng
  • News
  • Daerah
  • Legislatif
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom

Beranda » Fenomena Sampah Makanan di Tengah Kemiskinan Dan Kelaparan

Fenomena Sampah Makanan di Tengah Kemiskinan Dan Kelaparan

Minggu, 21 Juli 2024
in Opini
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dewi Utami, S.Pd.I ***

Negeri darurat sampah makanan. Food waste maupun food loss merupakan problem yang sampai saat ini belum kunjung teratasi. Sampah tersebut jika dibiarkan terus menerus menumpuk di TPA, akan menghasilkan gas metana dan karbondioksida, yang mana dari kedua gas tersebut tidak sehat untuk kehidupan makhluk di bumi.

Baca juga berita lainnya

Kekerasan Seksual Verbal, Cermin Kerusakan Sistem Sosial

Ratusan Nelayan Belawan Unjuk Rasa, Tolong Peka Wahai Penguasa!

MBG Berulang, Alarm Kelalaian Negara?

Gagalnya Sistem Kapitalisme, Menciptakan Pendidikan yang Suram

Karena kedua gas itu akan terbawa ke atmosfer dan berpotensi merusak lapisan ozon. Seperti yang sudah diketahui jika lapisan ozon terganggu ,maka terjadilah pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut akibat dari mencairnya es di bumi.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mencatat potensi kerugian negara akibat susut dan sisa makanan (food loss and waste) mencapai Rp213 triliun-Rp551 triliun per tahun. Angka ini setara dengan 4-5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Selain itu, total emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari timbulan sampah sisa makanan mencapai 1.072,9 metrik ton (MT) CO2 -ek. Sebaliknya, jika sisa pangan yang masih layak dikonsumsi dapat dimanfaatkan, Indonesia tidak hanya bisa menyelamatkan potensi ekonomi yang hilang, tapi juga dapat memenuhi kebutuhan energi dan menurunkan emisi gas rumah kaca.

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional pada tahun 2023 mencapai 26,20 juta ton. Jumlah itu lebih rendah dari timbulan sampah nasional pada tahun sebelumnya yang sebesar 37,73 juta ton.

Sementara itu, untuk mencegah potensi ekonomi yang hilang akibat susut dan sisa pangan, Bappenas telah meluncurkan peta jalan (roadmap) Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025-2045 serta Peta Jalan Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan, dalam Mendukung Pencapaian Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.(tirto.id, 3-07-2024)

*Sangat Ironis*
Fenomena tumpukan sampah makanan di tempat pembuangan sampah sangat menyisakan kesedihan. Bagaimana tidak, sampai detik ini kasus kemiskinan dan kelaparan masih menghiasi negeri ini. Disisi lain sampah makanan semakin menggunung.
Per Maret 2024, tingkat kemiskinan melanjutkan tren menurun menjadi 9,03 persen dari 9,36 persen pada Maret 2023..

Penduduk miskin pada Maret 2024 turun 0,68 juta orang dari Maret 2023 sehingga jumlah penduduk miskin menjadi sebesar 25,22 juta orang. (menpan.go.id). Selain itu, Global Hunger Index (GHI) tahun 2023 mencatatkan tingkat kelaparan Indonesia di posisi kedua tertinggi di Asia Tenggara, yaitu di angka 17,6 dan masuk kategori kelaparan “sedang”.

Padahal jika dilihat dari kekayaan alam di negeri seharusnya sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Apalagi jika masyarakat dari kalangan menengah ke atas mampu mengelola sumber pangan dengan memberikan kepada masyarakat yang terkategori kurang mampu pasti tidak akan terjadi kasus tersebut. Yang menjadi pertanyaan, kenapa hal ini bisa terjadi ?

*Apa Penyebabnya?*

Problem penumpukan sampah makanan tidak terlepas dari penerapan sistem kapitalisme, serta sekularisme yang menjauhkan manusia dari akhlak Islam. Agama dipisahkan dari kehidupan. Padahal urgensi agama adalah sebagai sistem yang mengatur seluruh kehidupan manusia dari aturan kehidupan individu sampai ketatanegaraan.

Tidak terkecuali dengan kasus kemiskinan, kelaparan, dan penumpukan sampah makanan. Penumpukan sampah merupakan problem dunia yang sangat erat dengan gaya hidup konsumerisme. Munculnya konsumerisme dikalangan masyarakat dipengaruhi oleh sistem kapitalisme, yang memandang sesuatu berdasarkan standar materi, mengejar gaya hidup yang berlebihan.

Yaitu diantara adalah boros saat membeli makanan. Banyak ditemukan orang membeli beberapa makanan lebih dari yang dibutuhkan. Akibatnya, banyak makanan yang tidak dikonsumsi dan berakhir dibuang begitu saja. Padahal sikap boros bisa saja dihindari apabila ada kesadaran untuk mengatur pengeluaran berdasarkan kebutuhan hidupnya, atau bisa dengan cara berbagi kepada orang yang membutuhkan makanan tersebut.

Selain itu, problem sampah makanan menggambarkan adanya mismanajemen negara dalam mendistribusikan harta, sehingga mengakibatkan kemiskinan dan problem lainnya seperti adanya kasus beras busuk di gudang Bulog, pembuangan sembako untuk stabilisasi harga, dan lain-lain.

Seperti yang dialami sejumlah warga di Mandailing Natal, Sumatra Utara kecewa setelah membeli beras murah Bulog. Setiap warga bisa membeli beras sebanyak 10 kilogram dengan harga Rp10.500 perkg. Sebanyak 7 ton beras yang dijual habis dalam waktu tak sampai 1 jam.

Namun, beras tersebut ternyata sudah busuk dan tidak layak untuk dikonsumsi. (okezone.com, 06-03-2024)
Perusahaan pengiriman barang atau jasa ekspedisi yang memiliki kantor di Kota Depok diduga mengubur dan membuang puluhan karung beras untuk masyarakat terkena dampak Covid-19. Penimbunan itu pertama kali diketahui warga sekitar yang mendapatkan informasi dari pegawai perusahaan pengiriman itu. (tempo.co, 31/07/2022).

Dalam menyikapi problem inipun, negara hanya melakukan perencanaan, hal ini terlihat adanya Peta Jalan dan Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025-2045. Diawali dengan pengenalan gerakan pengelolaan sampah 9R (refuse, rethink, reduce, refuse, repair,refurbish, remanufacture, ruporse, recycle, recovery -total 10R).

Yang mana akan mengandalkan akan mengandalkan food bank lembaga sebagai penyalur makanan untuk yang membutuhkan. Dari Sinilah terlihat bahwa semua itu adalah bentuk pengalihan tanggung jawab negara terhadap rakyatnya, rakyat diharuskan ikut andil dalam mengatasi masalah sampah makanan tersebut.

*Islam Solusi Tuntas*

Berbeda dengan sistem kapitalisme sekularisme, Islam sangat memperhatikan kehidupan manusia. Dari permasalahan individu, masyarakat sampai kenegaraan. Karena sejatinya Islam adalah agama ritual sekaligus siyasiyah . Yaitu Islam mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya, dan manusia dengan sesamanya yang meliputi hukum, sistem pergaulan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Dalam mengatasi problematika manusia Islam mewajibkan agar setiap manusia selalu berpegang teguh pada syariat Islam. Islam mewajibkan negara mengurusi segala urusan rakyat dengan baik. Tidak terkecuali dalam mengatasi problematika penumpukan sampah makanan ini diantaranya negara harus:

Pertama, mengedukasi rakyat agar senantiasa makan secukupnya dan melarang gaya hidup konsumerisme. Dan membiasakan rakyat untuk peduli kepada sesamanya, yaitu diantaranya dengan berbagi makanan jika mempunyai makanan yang berlebihan.
Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim).

Kedua, mengelola harta milik umum yang berupa sumber kekayaan alam dan menyalurkannya ke seluruh rakyat, serta menciptakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya sehingga mampu mengatasi kasus kemiskinan. Ketiga, menampung seluruh zakat, infak, dan shodaqoh dari rakyat yang mampu untuk disalurkan kepada rakyat yang membutuhkan.

Demikianlah Islam mengatur kehidupan manusia. Sehingga jika diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan negara maka akan menghasilkan manusia yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan Rasulullah Saw. Bersikap zuhud , tidak boros dan berbuat kerusakan di bumi . Manusia senantiasa berlomba-lomba untuk mencari bekal kehidupan akhirat. Allah berfirman :

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”.(Al-Qashash ayat 77)
Wallahu’alam.

(Penulis Adalah Pemerhati Remaja Kotawaringin Timur)

Share3Tweet2SendShareShareSendScan
ad-space
Previous Post

Pemkab Diminta Fokus Tingkatkan Konektivitas dan Infrastruktur Jalan

Next Post

Lancarkan Arus Barang dan Jasa, Tingkatkan Kualitas Jalan Penghubung Antar Kecamatan

Berita Terkait

Opini

Kekerasan Seksual Verbal, Cermin Kerusakan Sistem Sosial

Jumat, 24 April 2026
Opini

Ratusan Nelayan Belawan Unjuk Rasa, Tolong Peka Wahai Penguasa!

Minggu, 8 Maret 2026
Opini

MBG Berulang, Alarm Kelalaian Negara?

Minggu, 22 Februari 2026
Opini

Gagalnya Sistem Kapitalisme, Menciptakan Pendidikan yang Suram

Sabtu, 14 Februari 2026
Opini

Menimbang Arah Diplomasi Perdamaian dan Keberpihakan Kemanusiaan

Senin, 9 Februari 2026
Opini

Ketimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalisme

Minggu, 18 Januari 2026
Load More
Next Post

Lancarkan Arus Barang dan Jasa, Tingkatkan Kualitas Jalan Penghubung Antar Kecamatan

Fraksi Golkar Pertanyakan Kesesuaian Ketentuan Pengelolaan PBB-P2

Masyarakat Dapil I Aspirasikan Pembangunan Rumah Ibadah

Posko Siaga dan Poslap Enam Kecamatan Diaktifkan Cegah Karhutla

Ketua Komisi III DPRD Barsel Sebut Perlu Perhatian Serius Pembangunan di Tingkat Desa

Banner

PILIHAN EDITOR

Polda Kalteng Ungkap 121 Kasus Kejahatan Jalanan Selama 2026, 233 Tersangka Berhasil Diamankan

Sabtu, 30 Mei 2026

Raih WTP Ke-12 Beruntun, Bukti Komitmen Pemkab Kotim Kelola Keuangan Secara Transparan

Jumat, 29 Mei 2026

Gubernur Kalteng Lantik Sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama

Selasa, 26 Mei 2026

Damkar Kotim Bergerak Cepat Padamkan Kebakaran di Gang Mutiara, Dugaan Sementara Korsleting Listrik

Sabtu, 23 Mei 2026

Kapasitas Pesawat Tetap Full 180 Penumpang, Super Air Jet Kurangi Bagasi Gratis

Selasa, 19 Mei 2026

Drainase Tersumbat dan Kesadaran Warga Jadi Sorotan di Tengah Banjir Perkotaan Kotim

Selasa, 19 Mei 2026

  • Hakim Nyatakan Penangkapan Tidak Sah, Rudiyanto Resmi Bebas dari Tahanan

    12225 shares
    Share 4890 Tweet 3056
  • TPP Bukan Hak bagi ASN

    5948 shares
    Share 2379 Tweet 1487
  • Ini Jadwal Libur Siswa saat Bulan Ramadhan

    4268 shares
    Share 1707 Tweet 1067
  • 317.000 Hektare Kebun Sawit Behasil Disita Satgas PKH

    3798 shares
    Share 1519 Tweet 950
  • Satgas PKH Dari Jakarta Akan Mendarat di Sampit, Tinjau Penyitaan Lahan Perusahaan Nakal

    3617 shares
    Share 1447 Tweet 904
  • Kunjungi Kalteng, Kasum TNI Pantau Langsung Penyitaan Lahan Satgas Garuda di Kotim

    2782 shares
    Share 1113 Tweet 696
  • PT HMBP dan Polda Kalteng Didenda Rp 335 Juta

    2363 shares
    Share 945 Tweet 591
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman
  • Kontak
COPYRIGHT © 2018-2023 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK.
TENTANG KAMI  |  PEDOMAN  |  DISCLAIMER
KEBIJAKAN PRIVASI  |  KONTAK
© 2018-2023 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.
PT RAJA DIGITAL MEDIA
JL. BUMI RAYA I, PERUM.ZAHRANA, RT.01/RW.01
KEL. BAAMANG BARAT, KEC. BAAMANG
SAMPIT, KOTAWARINGIN TIMUR, KALIMANTAN TENGAH
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini

COPYRIGHT © 2018-2023 MATA KALTENG
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK