Oleh: Dewi Utami, S.Pd.I ***
Negeri darurat sampah makanan. Food waste maupun food loss merupakan problem yang sampai saat ini belum kunjung teratasi. Sampah tersebut jika dibiarkan terus menerus menumpuk di TPA, akan menghasilkan gas metana dan karbondioksida, yang mana dari kedua gas tersebut tidak sehat untuk kehidupan makhluk di bumi.
Karena kedua gas itu akan terbawa ke atmosfer dan berpotensi merusak lapisan ozon. Seperti yang sudah diketahui jika lapisan ozon terganggu ,maka terjadilah pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut akibat dari mencairnya es di bumi.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mencatat potensi kerugian negara akibat susut dan sisa makanan (food loss and waste) mencapai Rp213 triliun-Rp551 triliun per tahun. Angka ini setara dengan 4-5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Selain itu, total emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari timbulan sampah sisa makanan mencapai 1.072,9 metrik ton (MT) CO2 -ek. Sebaliknya, jika sisa pangan yang masih layak dikonsumsi dapat dimanfaatkan, Indonesia tidak hanya bisa menyelamatkan potensi ekonomi yang hilang, tapi juga dapat memenuhi kebutuhan energi dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional pada tahun 2023 mencapai 26,20 juta ton. Jumlah itu lebih rendah dari timbulan sampah nasional pada tahun sebelumnya yang sebesar 37,73 juta ton.
Sementara itu, untuk mencegah potensi ekonomi yang hilang akibat susut dan sisa pangan, Bappenas telah meluncurkan peta jalan (roadmap) Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025-2045 serta Peta Jalan Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan, dalam Mendukung Pencapaian Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.(tirto.id, 3-07-2024)
*Sangat Ironis*
Fenomena tumpukan sampah makanan di tempat pembuangan sampah sangat menyisakan kesedihan. Bagaimana tidak, sampai detik ini kasus kemiskinan dan kelaparan masih menghiasi negeri ini. Disisi lain sampah makanan semakin menggunung.
Per Maret 2024, tingkat kemiskinan melanjutkan tren menurun menjadi 9,03 persen dari 9,36 persen pada Maret 2023..
Penduduk miskin pada Maret 2024 turun 0,68 juta orang dari Maret 2023 sehingga jumlah penduduk miskin menjadi sebesar 25,22 juta orang. (menpan.go.id). Selain itu, Global Hunger Index (GHI) tahun 2023 mencatatkan tingkat kelaparan Indonesia di posisi kedua tertinggi di Asia Tenggara, yaitu di angka 17,6 dan masuk kategori kelaparan “sedang”.
Padahal jika dilihat dari kekayaan alam di negeri seharusnya sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Apalagi jika masyarakat dari kalangan menengah ke atas mampu mengelola sumber pangan dengan memberikan kepada masyarakat yang terkategori kurang mampu pasti tidak akan terjadi kasus tersebut. Yang menjadi pertanyaan, kenapa hal ini bisa terjadi ?
*Apa Penyebabnya?*
Problem penumpukan sampah makanan tidak terlepas dari penerapan sistem kapitalisme, serta sekularisme yang menjauhkan manusia dari akhlak Islam. Agama dipisahkan dari kehidupan. Padahal urgensi agama adalah sebagai sistem yang mengatur seluruh kehidupan manusia dari aturan kehidupan individu sampai ketatanegaraan.
Tidak terkecuali dengan kasus kemiskinan, kelaparan, dan penumpukan sampah makanan. Penumpukan sampah merupakan problem dunia yang sangat erat dengan gaya hidup konsumerisme. Munculnya konsumerisme dikalangan masyarakat dipengaruhi oleh sistem kapitalisme, yang memandang sesuatu berdasarkan standar materi, mengejar gaya hidup yang berlebihan.
Yaitu diantara adalah boros saat membeli makanan. Banyak ditemukan orang membeli beberapa makanan lebih dari yang dibutuhkan. Akibatnya, banyak makanan yang tidak dikonsumsi dan berakhir dibuang begitu saja. Padahal sikap boros bisa saja dihindari apabila ada kesadaran untuk mengatur pengeluaran berdasarkan kebutuhan hidupnya, atau bisa dengan cara berbagi kepada orang yang membutuhkan makanan tersebut.
Selain itu, problem sampah makanan menggambarkan adanya mismanajemen negara dalam mendistribusikan harta, sehingga mengakibatkan kemiskinan dan problem lainnya seperti adanya kasus beras busuk di gudang Bulog, pembuangan sembako untuk stabilisasi harga, dan lain-lain.
Seperti yang dialami sejumlah warga di Mandailing Natal, Sumatra Utara kecewa setelah membeli beras murah Bulog. Setiap warga bisa membeli beras sebanyak 10 kilogram dengan harga Rp10.500 perkg. Sebanyak 7 ton beras yang dijual habis dalam waktu tak sampai 1 jam.
Namun, beras tersebut ternyata sudah busuk dan tidak layak untuk dikonsumsi. (okezone.com, 06-03-2024)
Perusahaan pengiriman barang atau jasa ekspedisi yang memiliki kantor di Kota Depok diduga mengubur dan membuang puluhan karung beras untuk masyarakat terkena dampak Covid-19. Penimbunan itu pertama kali diketahui warga sekitar yang mendapatkan informasi dari pegawai perusahaan pengiriman itu. (tempo.co, 31/07/2022).
Dalam menyikapi problem inipun, negara hanya melakukan perencanaan, hal ini terlihat adanya Peta Jalan dan Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025-2045. Diawali dengan pengenalan gerakan pengelolaan sampah 9R (refuse, rethink, reduce, refuse, repair,refurbish, remanufacture, ruporse, recycle, recovery -total 10R).
Yang mana akan mengandalkan akan mengandalkan food bank lembaga sebagai penyalur makanan untuk yang membutuhkan. Dari Sinilah terlihat bahwa semua itu adalah bentuk pengalihan tanggung jawab negara terhadap rakyatnya, rakyat diharuskan ikut andil dalam mengatasi masalah sampah makanan tersebut.
*Islam Solusi Tuntas*
Berbeda dengan sistem kapitalisme sekularisme, Islam sangat memperhatikan kehidupan manusia. Dari permasalahan individu, masyarakat sampai kenegaraan. Karena sejatinya Islam adalah agama ritual sekaligus siyasiyah . Yaitu Islam mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya, dan manusia dengan sesamanya yang meliputi hukum, sistem pergaulan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.
Dalam mengatasi problematika manusia Islam mewajibkan agar setiap manusia selalu berpegang teguh pada syariat Islam. Islam mewajibkan negara mengurusi segala urusan rakyat dengan baik. Tidak terkecuali dalam mengatasi problematika penumpukan sampah makanan ini diantaranya negara harus:
Pertama, mengedukasi rakyat agar senantiasa makan secukupnya dan melarang gaya hidup konsumerisme. Dan membiasakan rakyat untuk peduli kepada sesamanya, yaitu diantaranya dengan berbagi makanan jika mempunyai makanan yang berlebihan.
Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim).
Kedua, mengelola harta milik umum yang berupa sumber kekayaan alam dan menyalurkannya ke seluruh rakyat, serta menciptakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya sehingga mampu mengatasi kasus kemiskinan. Ketiga, menampung seluruh zakat, infak, dan shodaqoh dari rakyat yang mampu untuk disalurkan kepada rakyat yang membutuhkan.
Demikianlah Islam mengatur kehidupan manusia. Sehingga jika diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan negara maka akan menghasilkan manusia yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan Rasulullah Saw. Bersikap zuhud , tidak boros dan berbuat kerusakan di bumi . Manusia senantiasa berlomba-lomba untuk mencari bekal kehidupan akhirat. Allah berfirman :
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”.(Al-Qashash ayat 77)
Wallahu’alam.
(Penulis Adalah Pemerhati Remaja Kotawaringin Timur)





















