Oleh: Nur Rahmawati, S.H***
Durhaka, kata yang pantas disematkan kepada anak yang tega menghabisi nyawa ayah kandungnya sendiri yang menderita stroke. Kejadian di Pesisir Barat, Lampung ini sungguh memilukan, hanya karena ayahnya meminta si anak untuk diantar ke kamar mandi, si anak tega membunuhnya (Liputan6.com, 21-6-2024).
Kejadian serupa juga pernah terjadi di Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, Pemuda bernama Muhammad Fadli Sukamto (22) tega membunuh ibu kandungnya, Wati (44) yang sebelumnya terjadi cekcok hebat di antara keduanya. Pelaku menyerahkan diri ke pihak berwajib dan mengaku sakit hati dengan sang ibu (Rakyatkalteng.com, 21-11-2023).
Terus berulangnya perbuatan kriminal yang dilakukan anak kepada orang tua, harusnya menjadi perhatian khusus pemerintah. Mengingat, sebagai pemangku kebijakan sekaligus penjamin keamanan harusnya cepat dalam menghentikan semua ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa kasus anak durhaka terus berulang?
Biang Kerusakan Moral Anak
Dalam menyelamatkan moral anak, maka perlu memahami akar permasalahan yang terjadi. Jika kita telaah bersama, lemahnya fondasi keluarga yang aman, nyaman dan saling melindungi tidak bisa didapatkan pada sistem sekularisme yang diadopsi saat ini, sebuah sistem buatan manusia di mana sistem yang memisahkan agama dari kehidupan telah nyata merenggut peran dan adab dari anggota keluarga.
Sekularisme-kapitalisme telah merusak dan merobohkan pandangan mengenai keluarga. Sekularisme melahirkan manusia-manusia miskin iman yang tidak mampu mengontrol emosinya, rapuh dan kosong jiwanya. Kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan, abai pada keharusan untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua).
Sistem pendidikan sekular tidak mendidik agar memahami birul walidain. Lahirlah generasi rusak yang tidak hanya rusak hubungannya dengan orang tua tapi juga hubungannya dengan Allah Swt..
Penerapan sistem hidup kapitalisme gagal memanusiakan manusia. Fitrah dan akal tidak terpelihara, menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya yaitu sebagai hamba dan khalifah pembawa rahmat bagi alam semesta. Maka lahirlah generasi rusak dan merusak.
Selain itu, Sekularisme kapitalisme telah menyebabkan rusaknya tatanan keluarga dan lahirlah anak durhaka. Sistem ini menganggap kebutuhan materi sebagai ukuran kebahagiaan, sehingga perempuan yang dipandang sebagai pegiat ekonomi harus ikut bersusahpayah mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarga. Akibatnya, perempuan makin banyak yang meninggalkan keluarganya untuk bekerja, baik dalam keadaan terpaksa maupun sukarela.
Makin banyak anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua, sehingga akan makin marak pula kenakalan anak-anak atau remaja dari mulai berbohong hingga terjerumus dalam kriminalitas. Sistem kapitalisme-sekular juga gagal menghadirkan penghormatan seorang anak terhadap ibunya, alhasil kapitalisme merusak fungsi keluarga.
Sistem Islam Menyelamatkan Moral Anak.
Sistem Islam mengatur bahwa adanya kewajiban berbakti kepada orang tua, akan menjadikan anak memiliki moral yang baik. Hal ini, tentu perlu kerja sama yang solid antara keluarga, masyarakat dan negara, agar dapat terealisasi dengan baik. Perlunya peran keluarga, masyarakat dan yang tak kalah penting adalah peran negara akan menjadi penentu keberhasilan lahirnya generasi yang berkahlakul karimah (akhlak baik dan terpuji).
Sistem Islam akan mengedepankan pendidikan yang berbasis Islam. Pendidikan dalam Islam dimulai dalam keluarga, di mana orang tua harus memiliki ilmu berumah tangga yang cukup sebagai modal mengarungi kehidupan keluarga. Pendidikan keluarga didasarkan pada tuntunan agama Islam, sehingga anak akan beriman dan bertakwa pada Allah Swt., serta berakhlak mulia yang mencakup, etika moral, budi pekerti, dan tingkah laku.
Islam mendidik generasi menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam, yang akan berbakti dan hormat pada orang tuanya, dan memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi. Islam memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal, juga menegakkan sistem sanksi yang menjerakan sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan termasuk kekerasana anak pada orang tua.
Pembentukan kepribadian anak dalam Islam merupakan upaya kolaboratif yang melibatkan pembentukan pikiran dan perasaannya sejalan dengan ajaran agama. Hal ini dicapai dengan menanamkan konsep halal dan haram dalam tindakannya, meningkatkan keimanan, menumbuhkan rasa ketaqwaan kepada Allah, dan menumbuhkan akhlak dan akhlak yang baik .
Peran pendidikan agama dalam proses ini sangat penting karena tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis tentang Islam tetapi juga memengaruhi perkembangan karakter anak. Termasuk mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan perilaku yang sejalan dengan ajaran Islam.
Dalam konteks Islam, orang tua memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian anak. Merekalah pendidik utama dan teladan yang membimbing anak-anaknya menuju pengembangan karakter yang baik . Ketika nilai-nilai Islam menjadi landasan pembentukan karakter, maka perilaku anak menjadi selaras dengan kaidah dan prinsip Islam .
Untuk mencegah anak menjadi pemberontak, penting untuk menjalin hubungan yang kuat dengan mereka, memahami kebutuhan dan minat mereka, dan berkomunikasi secara terbuka dengan mereka. Mendorong partisipasi mereka dalam kegiatan keagamaan dan menyediakan lingkungan pengasuhan yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan mereka sebagai Muslim. Selain itu, memberikan contoh positif dengan mengamalkan dan mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dapat menginspirasi anak untuk melakukan hal yang sama.
Khatimah
Untuk membangun kepribadian anak secara Islam, fokuslah pada penanaman nilai-nilai akhlak yang kuat, membina hubungan yang mendalam dengan Allah, dan menjadi teladan yang positif. Hal ini akan membantu memastikan bahwa anak-anak tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab, penuh hormat, dan setia. Semua ini, tentu perlu peran keluarga, masyarakat dan negara dalam sistem Islam, sehingga persoalan anak durhaka akan terselesaikan dengan tuntas.
(Penulis adalah praktisi pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur)






















Discussion about this post