SAMPIT – Warga yang tinggal di sekitar Jalan Bengkirai, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin resah dengan aktivitas di sebuah tempat biliar yang berada di lingkungan mereka. Tempat hiburan tersebut tidak hanya menimbulkan kebisingan hingga larut malam, tetapi juga sering menjadi lokasi perkelahian, yang semakin mengganggu kenyamanan warga setempat.
Yahya (60) seorang warga yang telah menetap di wilayah itu selama bertahun-tahun, mengungkapkan bahwa suara bising dari musik tersebut sangat mengganggu waktu istirahatnya. “Kadang-kadang saya terbangun di tengah malam karena suara musik yang sangat keras. Selain itu, suara orang yang berteriak-teriak saat bermain biliar juga membuat suasana semakin berisik. Mereka sering kali baru berhenti sekitar jam dua subuh,” ungkap Yahya kepada wartawan, Rabu 4 September 2024.
Menurut Yahya, kebisingan dari tempat biliar tersebut sudah berlangsung lama dan mengganggu rutinitas tidur warga di sekitarnya. Selain kebisingan, tempat itu juga sering menjadi arena perkelahian, yang menciptakan suasana tidak aman dan tidak nyaman bagi warga yang tinggal di dekatnya. “Dulu-dulu memang sering ada perkelahian, untuk yang tadi malam baru dapat informasinya. Berarti yang ribut tadi malam itu perkelahian di situ? Makanya ribut,” bebernya.
Warga RT 34, yang lokasinya berdekatan dengan tempat biliar GPool juga menyuarakan keluhan serupa. Seorang nenek yang tinggal di rumah tepat di sebelah tempat hiburan itu mengaku sangat terganggu oleh kebisingan yang terus-menerus. “Berisik sekali. Kadang kita susah tidur, apalagi ada tetangga yang punya anak kecil. Mereka sempat menegur, tapi suara bisingnya tetap saja tidak berkurang cu,” ungkap sang nenek yang enggan menyebutkan namanya.
Selain kebisingan, tempat biliar tersebut juga sering menjadi lokasi mabuk-mabukan, yang semakin menambah keresahan warga. Suasana istirahat malam warga yang seharusnya tenang berubah menjadi kacau karena aktivitas tak terkendali di tempat hiburan itu. Ketua RT 34 Hermansyah juga telah mengetahui masalah ini dan mengakui bahwa permasalahan terkait tempat biliar tersebut telah beberapa kali dibahas dalam pertemuan warga.
“Kita sudah pernah mengadakan pertemuan untuk membahas masalah ini, terutama mengenai kebisingan dan dampaknya terhadap warga. Dulu, pernah ada masalah terkait kebocoran air kolam yang merembes ke rumah warga, dan itu sudah diperbaiki. Namun, masalah kebisingan ini memang belum ada laporan resmi baru dan selama saya jadi ketua RT tidak pernah dipanggil cuman pas Ketua RT sebelumnya aja pas peresmian,” jelasnya.
(gus/matakalteng)






















Discussion about this post