SAMPIT – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Multazam mengungkapkan bahwa sejumlah wilayah di Kotim memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hal tersebut berdasarkan kajian risiko bencana yang dilakukan BPBD sebagai dasar penentuan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
“Kabupaten Kotawaringin Timur telah memiliki kajian risiko bencana. Dari data tersebut, terdapat beberapa kecamatan yang memiliki indeks bahaya karhutla tinggi, sehingga perlu menjadi perhatian bersama dalam upaya pencegahan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Jumat 10 April 2026.
Ia menjelaskan, terdapat 10 kecamatan yang masuk kategori wilayah rawan karhutla di Kotim, yakni Kecamatan Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan (MHS), Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Utara (MHU), Seranau, Mentaya Baru Ketapang (MBK), Baamang, Kota Besi, Cempaga, dan Telawang.
Menurutnya, wilayah-wilayah tersebut memiliki karakteristik lahan yang sebagian besar berupa gambut serta kondisi vegetasi yang mudah mengering saat musim kemarau, sehingga meningkatkan potensi kebakaran jika tidak dilakukan pengawasan dan pengendalian secara ketat.
Selain itu, berdasarkan data pemantauan titik panas (hotspot) selama beberapa tahun terakhir, tren peningkatan hotspot di Kotim biasanya terjadi pada periode Agustus hingga Oktober, yang merupakan puncak musim kemarau di wilayah tersebut.
“Grafik hotspot dari tahun 2015 hingga 2026 menunjukkan peningkatan signifikan pada bulan Agustus sampai Oktober. Bahkan pada beberapa tahun tertentu jumlahnya cukup tinggi, sehingga periode ini menjadi fokus kewaspadaan kami,” ujarnya.
Multazam menambahkan, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor utama yang memicu terjadinya karhutla. Ketika tidak terjadi hujan dalam jangka waktu lama, terutama saat musim kemarau, maka kelembapan tanah akan menurun dan lahan menjadi sangat mudah terbakar.
Selain faktor cuaca, kondisi lahan juga berpengaruh besar terhadap potensi kebakaran. Lahan gambut yang kering memiliki tingkat kerentanan tinggi karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan jika sudah menyala.
BPBD Kotim juga mengingatkan masyarakat agar mengenali tanda-tanda awal potensi kebakaran di lingkungan sekitar sebagai bagian dari sistem peringatan dini berbasis masyarakat.
“Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain tidak adanya hujan dalam waktu lama, kondisi lahan yang mulai mengering, munculnya asap di sekitar permukiman atau kawasan hutan, serta tercium bau khas lahan gambut yang terbakar, biasanya pada pagi hari,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat sangat penting dalam upaya pencegahan karhutla. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran kepada aparat desa, petugas BPBD, maupun pihak terkait lainnya.
Menurut Multazam, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi, mengingat dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta aktivitas ekonomi.
“Karhutla bukan hanya persoalan kebakaran lahan, tetapi juga berdampak pada kesehatan, lingkungan, dan aktivitas masyarakat. Karena itu, kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan sejak dini,” tegasnya.
BPBD Kotim juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, serta berbagai unsur terkait dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla pada musim kemarau tahun ini.
Dengan adanya pemetaan wilayah rawan serta sistem peringatan dini yang melibatkan masyarakat, diharapkan potensi kebakaran hutan dan lahan di Kotim dapat ditekan sehingga dampaknya tidak meluas seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post