SAMPIT – Pengolah Data dan Informasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Emma Esterita mengungkapkan bahwa peningkatan titik panas atau hotspot pada musim kemarau menjadi salah satu indikator penting yang perlu diwaspadai karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta menurunkan kualitas udara.
“Pada musim kemarau biasanya terjadi lonjakan hotspot secara signifikan. Hal ini dipengaruhi kondisi lahan yang kering dan mudah terbakar sehingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” kata Pengolah Data dan Informasi DLH Kotim Emma Esterita, Jumat 10 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikator awal yang digunakan untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan melalui pemantauan satelit. Ketika jumlah hotspot meningkat, maka potensi kebakaran di suatu wilayah juga cenderung meningkat.
Menurut Emma, kondisi tersebut biasanya terjadi ketika intensitas hujan menurun dalam jangka waktu tertentu sehingga kelembapan tanah dan vegetasi berkurang. Kondisi ini menyebabkan lahan, terutama lahan gambut dan semak belukar, menjadi sangat mudah terbakar apabila terdapat sumber api.
Selain memicu kebakaran hutan dan lahan, meningkatnya aktivitas kebakaran juga berdampak langsung terhadap kualitas udara di suatu wilayah. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur kondisi kualitas udara adalah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
“Peningkatan aktivitas kebakaran biasanya menyebabkan kualitas udara menurun. Dalam kondisi tertentu, nilai ISPU dapat berada pada kategori tidak sehat yang tentunya berisiko bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Emma menjelaskan bahwa penurunan kualitas udara akibat karhutla umumnya dipicu oleh asap yang dihasilkan dari proses pembakaran lahan maupun vegetasi hutan. Asap tersebut mengandung partikel halus yang dapat menyebar hingga ke wilayah yang cukup jauh dari lokasi kebakaran.
Akibatnya, dampak karhutla tidak hanya dirasakan di area terjadinya kebakaran, tetapi juga dapat meluas ke berbagai wilayah lain karena terbawa oleh arah angin dan kondisi atmosfer.
“Dampak kebakaran tidak hanya terjadi di lokasi kejadian saja, tetapi juga bisa meluas ke berbagai wilayah lain akibat sebaran asap. Inilah yang kemudian mempengaruhi kualitas udara dan dapat dirasakan masyarakat di wilayah yang cukup jauh dari titik kebakaran,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ketika nilai ISPU berada pada kategori tidak sehat, maka kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Gejala yang sering muncul akibat paparan asap antara lain gangguan pernapasan, iritasi mata, batuk, hingga menurunnya daya tahan tubuh jika terpapar dalam waktu yang cukup lama.
Karena itu, DLH Kotim terus melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala serta memantau perkembangan hotspot sebagai bagian dari sistem peringatan dini terhadap potensi karhutla.
“Kami terus memantau perkembangan hotspot dan kondisi kualitas udara sebagai upaya untuk memberikan informasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan terkait potensi dampak yang dapat terjadi,” kata Emma.
Selain pemantauan, DLH juga mendorong berbagai upaya pencegahan karhutla melalui koordinasi dengan instansi terkait, termasuk pemerintah daerah, BPBD, serta aparat di tingkat kecamatan dan desa.
Menurut Emma, upaya pencegahan menjadi langkah yang sangat penting untuk menekan potensi kebakaran serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
“Pencegahan merupakan langkah yang paling efektif. Karena ketika kebakaran sudah terjadi dan asap menyebar luas, dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat dalam waktu yang cukup lama,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena selain berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, juga dapat memperburuk kondisi kualitas udara.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat serta koordinasi yang baik antara berbagai pihak, diharapkan potensi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur dapat ditekan sehingga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post