SAMPIT – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Multazam mengungkapkan bahwa beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah terjadi pada awal tahun 2026.
Meski luasannya relatif kecil dan dapat segera ditangani, peristiwa tersebut menjadi perhatian serius karena menunjukkan potensi kebakaran yang mulai muncul di sejumlah wilayah.
“Pada awal tahun ini sudah terdapat beberapa kejadian karhutla yang berhasil ditangani. Walaupun luasnya tidak terlalu besar, namun tetap menjadi perhatian kami karena menunjukkan adanya potensi kebakaran yang perlu diwaspadai,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Jumat 10 April 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan catatan BPBD Kotim, terdapat lima kejadian karhutla selama Januari 2026 yang terjadi di beberapa lokasi berbeda. Kejadian pertama terjadi pada 15 Januari 2026 di Simpang Kuala Pembuang, Jalan menuju Desa Ujung Pandaran RT 4 dengan luas lahan terbakar sekitar 6 hektare.
Selanjutnya, kejadian kedua terjadi pada 16 Januari 2026 di Desa Babirah dengan luas lahan terbakar sekitar 0,05 hektare. Pada hari yang sama juga terjadi kebakaran di Eka Bahurui dengan luas lahan terbakar sekitar 0,001 hektare.
“Kejadian berikutnya tercatat pada 21 Januari 2026 di Jalan Bawi Jawanes dengan luas lahan terbakar sekitar 0,06 hektare. Sementara kejadian lainnya terjadi di Jalan Poros Perum Betang Raya dengan luas lahan terbakar mencapai 0,4 hektare,”bebernya.
Multazam mengatakan seluruh kejadian tersebut dapat segera ditangani oleh tim di lapangan sehingga tidak meluas. Namun demikian, BPBD tetap meningkatkan pemantauan karena kondisi lingkungan mulai menunjukkan potensi yang dapat memicu kebakaran.
“Seluruh kejadian tersebut berhasil ditangani dengan cepat oleh tim di lapangan sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar,” ujarnya.
Selain memantau kejadian kebakaran, BPBD Kotim juga terus melakukan pemantauan terhadap titik panas (hotspot) yang terdeteksi setiap hari. Data harian menunjukkan fluktuasi jumlah hotspot yang perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan karhutla.
Berdasarkan data pemantauan, jumlah hotspot harian pada Januari 2026 tercatat 15 titik pada 14 Januari, kemudian 9 titik pada 15 Januari, 6 titik pada 16 Januari, 8 titik pada 17 Januari, dan 10 titik pada 18 Januari. Selanjutnya pada 19 Januari tercatat 6 titik, 20 Januari 7 titik, dan kembali meningkat menjadi 16 titik pada 21 Januari.
Menurut Multazam, peningkatan jumlah hotspot tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan status kewaspadaan bencana karhutla di daerah.
“Dalam penentuan status bencana karhutla, terdapat beberapa parameter yang digunakan, yaitu jumlah kejadian kebakaran atau firespot, tinggi muka air tanah (TMAT), serta hotspot yang terdeteksi dari satelit,” jelasnya.
Ia menyebutkan, ketiga parameter tersebut memiliki bobot penilaian yang berbeda dalam menentukan status kebencanaan. Firespot memiliki bobot 40 persen, TMAT 35 persen, dan hotspot 25 persen.
Data hotspot yang digunakan bersumber dari BMKG Sampit yang dipantau setiap hari.
Sementara parameter TMAT diperoleh dari pemantauan tinggi muka air tanah di sejumlah titik di wilayah Kotim.
“Berdasarkan data grafik, TMAT saat ini menunjukkan tren penurunan dan tercatat berada pada kisaran minus 35 sentimeter. Secara visual di beberapa titik parit maupun drainase air juga sudah mulai surut,” terang Multazam.
Dari hasil perhitungan parameter tersebut, diperoleh angka status bencana karhutla sebesar 1,6. Nilai tersebut menempatkan status kebencanaan karhutla di Kotim pada kategori Waspada, sementara untuk status kedaruratan berada pada level Siaga Darurat.
Multazam menegaskan bahwa status tersebut menjadi dasar bagi BPBD dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat langkah pencegahan sejak dini.
“Status waspada ini menjadi peringatan bagi kita semua agar lebih meningkatkan kesiapsiagaan. Pencegahan harus dilakukan lebih awal agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan karhutla, terutama dengan tidak membuka lahan menggunakan cara membakar serta segera melaporkan apabila melihat tanda-tanda kebakaran di lingkungan sekitar.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat sangat penting untuk menekan potensi kebakaran hutan dan lahan di Kotim, terutama menjelang musim kemarau yang biasanya meningkatkan risiko karhutla di wilayah tersebut.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post