Kasus Diare di Kotim Capai 4.665 Kasus pada 2025

SAMPIT – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Nugroho Kuncoro Yudho mengungkapkan bahwa kasus penyakit diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kotim.

Berdasarkan data sepanjang tahun 2025, jumlah kasus diare yang tercatat di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan mencapai 4.665 kasus dari berbagai kelompok usia.

Baca juga berita lainnya

“Berdasarkan data surveilans yang kami himpun sepanjang tahun 2025, total kasus diare di Kabupaten Kotawaringin Timur mencapai 4.665 kasus, yang terdiri dari 1.388 kasus pada balita dan 3.277 kasus pada kelompok semua umur,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kotim Nugroho Kuncoro Yudho, Jumat 10 April 2026.

Ia menjelaskan, jika dilihat dari tren bulanan, jumlah kasus diare di Kotim mengalami fluktuasi sepanjang tahun. Pada Januari tercatat 490 kasus, kemudian menurun menjadi 426 kasus pada Februari dan 298 kasus pada Maret.

Memasuki April, kasus kembali meningkat menjadi 385 kasus, kemudian 380 kasus pada Mei dan 399 kasus pada Juni. Peningkatan paling tinggi terjadi pada Juli 2025 dengan jumlah 577 kasus, yang menjadi angka tertinggi sepanjang tahun tersebut.

“Puncak kasus terjadi pada bulan Juli dengan 577 kasus. Setelah itu jumlahnya kembali menurun secara bertahap hingga akhir tahun,” ujarnya.

Setelah puncak tersebut, kasus diare tercatat 418 kasus pada Agustus, kemudian 422 kasus pada September, menurun menjadi 321 kasus pada Oktober, 312 kasus pada November, dan kembali turun menjadi 237 kasus pada Desember.

Nugroho mengatakan, selain melihat tren bulanan, Dinas Kesehatan juga melakukan pemetaan kasus berdasarkan wilayah kecamatan untuk mengetahui daerah yang memiliki angka kejadian lebih tinggi dibanding wilayah lain.

Dari data yang dihimpun, Kecamatan Parenggean menjadi wilayah dengan jumlah kasus diare tertinggi sepanjang tahun 2025 dengan total 1.010 kasus. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya di Kotim.

“Parenggean menjadi kecamatan dengan jumlah kasus diare tertinggi pada tahun 2025, yakni mencapai 1.010 kasus,” jelasnya.

Selain Parenggean, beberapa kecamatan lain juga mencatat angka kasus cukup tinggi, di antaranya Mentaya Baru Ketapang dengan 749 kasus, Baamang sebanyak 577 kasus, serta Cempaga yang mencatat 542 kasus.

Sementara itu, sejumlah kecamatan lain juga tetap menjadi perhatian meskipun jumlah kasusnya relatif lebih rendah, seperti Cempaga Hulu dengan 249 kasus, Kotabesi sebanyak 185 kasus, dan Mentaya Hilir Selatan dengan 143 kasus.

Kemudian Seranau tercatat sebanyak 146 kasus, Telaga Antang sekitar 147 kasus, Telawang sekitar 146 kasus, serta Mentaya Hulu dengan 107 kasus.

Di sisi lain, beberapa kecamatan mencatat jumlah kasus yang relatif lebih kecil, seperti Teluk Sampit sekitar 60 kasus, Bukit Santuai sekitar 45 kasus, serta Tualan Hulu yang tercatat sekitar 45 kasus sepanjang tahun 2025.

Selain melihat data satu tahun terakhir, Dinas Kesehatan Kotim juga melakukan perbandingan tren kasus diare antar tahun untuk mengetahui perkembangan situasi penyakit tersebut.

Menurut Nugroho, jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, jumlah kasus diare di Kotim menunjukkan dinamika yang cukup bervariasi di setiap wilayah kecamatan.

“Data perbandingan dari tahun 2022 hingga 2026 triwulan pertama menunjukkan bahwa angka kasus diare di beberapa kecamatan mengalami perubahan yang cukup dinamis, sehingga perlu terus dilakukan pemantauan dan upaya pencegahan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa faktor lingkungan, kualitas air bersih, serta perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat menjadi faktor penting yang mempengaruhi munculnya kasus diare.

Karena itu, Dinas Kesehatan Kotim terus melakukan berbagai upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi air yang aman, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami terus mengingatkan masyarakat agar selalu menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan sabun, serta memastikan makanan yang dikonsumsi dalam kondisi higienis,” kata Nugroho.

Ia menegaskan bahwa pencegahan penyakit diare tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat agar angka kasus dap (jne angejiah kkecama>

�gelanjutan(pen/mg src="htt)bagai kelompok _content">

AA
L"je=Mposfa-angle-right">