SAMPIT – Kepala Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa istilah “El Nino Godzilla” yang belakangan sering disebut bukan merupakan istilah resmi dalam meteorologi, melainkan hanya istilah populer untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat atau super.
“Istilah Godzilla ini bukan terminologi resmi meteorologi. Istilah itu digunakan secara populer untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat atau super El Nino,” ujar Mulyono Leo Nardo, Selasa, 7 April 2026.
Secara ilmiah, fenomena tersebut ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut yang sangat tinggi di wilayah Pasifik Tengah hingga Timur, khususnya pada indeks Nino 3.4.
“Ketika anomali suhu permukaan laut di Pasifik Tengah meningkat lebih dari dua derajat Celsius pada indeks Nino 3.4, kondisi itu dapat memicu fenomena El Nino,” jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, suplai uap air yang biasanya menuju wilayah Indonesia akan berkurang karena pusat pembentukan awan bergeser ke arah Pasifik Tengah.
Akibatnya, wilayah Indonesia cenderung mengalami penurunan curah hujan dan kondisi cuaca menjadi lebih kering dari biasanya.
“Ketika El Nino terjadi, suplai uap air ke Indonesia berkurang karena bergeser ke Pasifik Timur, sehingga curah hujan di Indonesia menurun dan kondisi menjadi lebih kering,” katanya.
Selain itu, fenomena El Nino juga ditandai dengan pelemahan angin pasat di wilayah Pasifik serta perubahan pola sirkulasi atmosfer yang menyebabkan pusat konveksi atau pembentukan awan hujan bergeser dari Indonesia ke wilayah Pasifik Tengah.
Menurut Mulyono, beberapa kejadian El Nino kuat pernah tercatat dalam sejarah, di antaranya pada tahun 1982, 1997 hingga 2015.
Pada periode tersebut nilai indeks Nino 3.4 bahkan mencapai lebih dari 2 derajat Celsius, yang menunjukkan intensitas El Nino sangat kuat.
“Tahun 1997 dan 2015 merupakan contoh kejadian El Nino yang sangat kuat, bahkan menyebabkan kebakaran hutan dan lahan yang sangat luas serta kabut asap hingga lintas negara,” jelasnya.
Di Kalimantan Tengah sendiri, dampak El Nino pada 2015 sangat terasa, termasuk di Palangka Raya dan wilayah lainnya yang mengalami kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, dampak paling konsisten dari fenomena El Nino adalah kemarau yang lebih panjang, penurunan curah hujan secara signifikan, meningkatnya risiko kekeringan, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, sektor pertanian juga berpotensi terganggu akibat berkurangnya ketersediaan air. Meski demikian, Mulyono menegaskan tidak semua El Nino akan menjadi ekstrem seperti kejadian sebelumnya.
“Tidak semua El Nino akan menjadi ekstrem. Intensitasnya tergantung pada kondisi laut dan atmosfer yang sangat kompleks, sehingga perlu pemantauan terus-menerus,” ujarnya.
Untuk tahun 2026, BMKG memprediksi fenomena ENSO masih berada pada kondisi netral hingga pertengahan tahun sebelum berpotensi bertransisi menuju El Nino lemah pada semester kedua.
“Prediksi kami, ENSO masih netral hingga pertengahan 2026, kemudian berpotensi bergerak menuju El Nino lemah pada semester kedua,” jelasnya.
Selain ENSO, faktor lain yang juga mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia adalah Indian Ocean Dipole (IOD) serta pola angin monsun Asia dan Australia.
BMKG memprediksi kondisi IOD masih berada pada fase netral hingga pertengahan 2026 sehingga belum memberikan pengaruh signifikan terhadap curah hujan di Indonesia.
Saat ini Indonesia juga masih dipengaruhi angin monsun Asia yang biasanya berlangsung pada periode Oktober hingga April.
“Dalam waktu dekat angin monsun Australia akan mulai aktif, tetapi pengaruhnya terhadap wilayah Indonesia masih dipengaruhi faktor-faktor lokal,” katanya.
Dengan berbagai faktor iklim global tersebut, BMKG akan terus melakukan pemantauan dan memperbarui prediksi secara berkala setiap bulan.
“Prediksi ini akan terus kami perbarui setiap bulan, karena dinamika atmosfer dan laut sangat kompleks sehingga kondisi bisa berubah,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post