SAMPIT – Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Yulita, menyebutkan pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah pertanian yang berpotensi terdampak kekeringan, terutama di kawasan sentra produksi padi yang memiliki peran besar terhadap ketahanan pangan daerah.
“Dari 17 kecamatan di Kotim, kami memunculkan dua lokasi utama yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan. Yang pertama di Kecamatan Teluk Sampit dengan luas lahan sawah sekitar 8.565 hektare dan potensi produksi mencapai 36.615 ton gabah kering panen,” ujar Yulita, Selasa 7 April 2026.
Ia menjelaskan wilayah kedua yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dengan luas lahan sekitar 765 hektare dan potensi produksi sekitar 2.827 ton gabah kering panen.
Selain dua wilayah tersebut, beberapa kecamatan lain seperti Pulau Hanaut juga masuk dalam pemantauan karena memiliki lahan pertanian yang cukup luas.
Menurutnya, untuk menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau, Dinas Pertanian menerapkan dua pendekatan utama yang dikombinasikan secara terpadu, yaitu pembangunan infrastruktur air serta penerapan teknik budidaya adaptif di sektor pertanian.
“Dua metode ini kami satukan dan kombinasikan, yaitu melalui pembangunan infrastruktur air dan penerapan teknik budidaya adaptif. Budidaya adaptif ini adalah strategi pengelolaan pertanian yang disesuaikan secara fleksibel untuk mengantisipasi risiko perubahan iklim seperti kekeringan, banjir hingga serangan hama penyakit agar produktivitas tetap terjaga,” jelasnya.
Pada aspek infrastruktur air, Dinas Pertanian mengembangkan beberapa solusi teknis yang dapat dimanfaatkan petani untuk memastikan ketersediaan air di lahan pertanian.
Salah satunya adalah sistem pompanisasi, yaitu pengaliran air dari sungai atau sumber air terdekat menuju lahan pertanian menggunakan pompa. Sistem ini dinilai efektif terutama bagi lahan yang memiliki akses ke sumber air permukaan.
Selain itu, penggunaan sumur bor juga menjadi alternatif untuk memanfaatkan air tanah dalam sebagai cadangan air saat musim kemarau.
“Sumur bor dapat menjadi solusi untuk mengatasi kekeringan di lahan pertanian dengan memanfaatkan air tanah dalam, sehingga petani tetap memiliki sumber air untuk tanaman,” katanya.
Sementara itu, pembangunan embung atau kolam penampung air hujan juga diterapkan sebagai cadangan air selama musim kemarau. Embung berfungsi menampung air saat musim hujan agar dapat dimanfaatkan ketika curah hujan menurun.
Salah satu embung telah dibangun di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara dan dimanfaatkan sebagai sumber cadangan air untuk lahan pertanian di sekitarnya.
Selain pembangunan infrastruktur air, Dinas Pertanian juga mendorong penerapan teknik budidaya yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan.
Yulita menjelaskan petani dianjurkan menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi lahan kering.
Untuk tanaman padi misalnya, petani disarankan menggunakan varietas Inpago 8. Sementara untuk jagung dianjurkan menggunakan varietas Bisi 18, dan untuk tanaman cabai dapat menggunakan varietas Dewata 43.
Varietas tersebut dinilai lebih mampu bertahan di lahan kering atau tanpa genangan air dibandingkan varietas lainnya.
Selain pemilihan varietas, petani juga dianjurkan mengatur jarak tanam yang lebih renggang ketika memasuki musim kemarau agar tanaman tidak terlalu bersaing dalam mendapatkan air dan unsur hara. Pengolahan tanah juga dianjurkan seminimal mungkin untuk menjaga kelembapan tanah tetap stabil.
“Pengolahan tanah minimum ini penting agar kelembapan tanah tetap terjaga sehingga tanaman tidak cepat mengalami kekeringan,” jelasnya.
Teknik lain yang disarankan adalah penggunaan mulsa sebagai penutup tanah. Mulsa dapat berasal dari jerami, daun kering maupun plastik.
Penutup tanah tersebut berfungsi menjaga kelembapan tanah, mengurangi penguapan air, serta membantu mempertahankan ketersediaan air bagi tanaman dalam jangka waktu lebih lama.
“Mulsa plastik juga cukup efektif menahan air dan umur pakainya lebih lama dibandingkan mulsa organik,” ujarnya.
Dalam menghadapi musim kemarau, penyesuaian jadwal tanam juga menjadi strategi penting agar produksi pertanian tetap stabil.
Menurut Yulita, langkah-langkah antisipasi tersebut penting mengingat kekeringan merupakan ancaman serius bagi sektor pertanian yang dapat menurunkan produktivitas bahkan menyebabkan gagal panen.
“Kekeringan adalah ancaman serius bagi sektor pertanian karena dapat menurunkan produktivitas bahkan menyebabkan gagal panen jika tidak diantisipasi dengan baik,” katanya.
Karena itu, Dinas Pertanian terus mendorong penerapan teknologi sederhana yang dapat membantu petani menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Selain penggunaan mulsa dan varietas tahan kekeringan, petani juga dapat memanfaatkan sistem pertanian alternatif seperti tumpang sari maupun budidaya tanaman sayuran dengan metode hidroponik.
Menurutnya, pendekatan adaptasi terhadap perubahan iklim tidak hanya bergantung pada ketersediaan air, tetapi juga pada strategi pengelolaan lahan yang tepat dan keputusan budidaya yang bijak.
“Antisipasi kekeringan bukan hanya soal ketersediaan air, tetapi juga bagaimana kita mengombinasikan strategi yang tepat, waktu yang akurat, serta pengelolaan lahan yang cerdas agar sektor pertanian tetap produktif,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post