SAMPIT – Musim kemarau panjang yang dipicu perubahan iklim diperkirakan membawa dampak serius terhadap kesehatan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Penurunan kualitas dan kuantitas air bersih, meningkatnya polusi udara, hingga perubahan perilaku vektor penyakit berpotensi memicu lonjakan berbagai penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga demam berdarah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho mengatakan perubahan iklim yang dipengaruhi fenomena El Nino menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan ekstrem sehingga berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
“Sebagaimana disampaikan BMKG, kondisi saat ini terjadi perubahan iklim yang merupakan salah satu dampak dari El Nino. Hal ini berdampak pada kualitas dan kuantitas air bersih yang merupakan kebutuhan vital bagi manusia dan sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat,” ujarnya saat Rapat Koordinasi Bencana Karhutla dan Bencana Kekeringan di Sampit, Selasa 7 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa saat musim kemarau kualitas air cenderung menurun karena sumber air menyusut sehingga konsentrasi bakteri meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memicu penyakit yang ditularkan melalui air atau water-borne diseases.
“Penyakit yang paling umum terjadi akibat konsumsi air tercemar adalah diare. Selain itu ada kolera, disentri dan demam tifoid yang berkaitan dengan sanitasi yang buruk maupun kontaminasi makanan dan minuman,” jelasnya.
Selain penyakit yang berkaitan dengan air, kondisi udara yang kering juga memicu meningkatnya penyakit saluran pernapasan. Debu dan asap yang mudah tersebar selama musim kemarau dapat memicu gangguan kesehatan seperti ISPA, asma hingga pneumonia.
“Penyakit yang sering kami waspadai saat musim kemarau adalah ISPA. Bagi penderita asma, kondisi udara yang berdebu atau adanya kabut asap juga dapat memicu kekambuhan,” katanya.
Dari data Dinas Kesehatan Kotim, kasus diare pada tahun 2025 tercatat cukup tinggi di sejumlah wilayah. Kecamatan Parenggean menjadi daerah dengan kasus diare tertinggi dibanding kecamatan lainnya.
“Kasus diare paling banyak terjadi di Kecamatan Parenggean. Di wilayah kota seperti Kecamatan Baamang dan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang juga cukup tinggi, tetapi angka tertinggi masih di Parenggean dan ini masih kami kaji penyebabnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tren kasus diare pada tahun 2025 bersifat fluktuatif setiap minggu, dengan peningkatan tertinggi terjadi pada bulan Juli. Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang puncak musim kemarau.
“Jika kemarau diprediksi terjadi pada Agustus, maka sejak Juli kita sudah harus waspada terhadap peningkatan kasus diare,” jelasnya.
Berdasarkan data perbandingan kasus dari tahun 2022 hingga 2026 triwulan pertama, Kecamatan Parenggean masih menjadi wilayah dengan angka kasus tertinggi. Sementara di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang juga menunjukkan tren peningkatan pada tahun 2026 sehingga perlu kewaspadaan lebih lanjut.
Secara umum, tren kasus diare pada tahun 2023 hingga 2025 menunjukkan penurunan meskipun tidak terlalu signifikan. Namun pada tahun 2026 hingga triwulan pertama sudah tercatat 1.573 kasus sehingga berpotensi meningkat jika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
“Kalau tren ini terus bergerak ditambah dengan musim kemarau, maka kemungkinan jumlah kasus tahun 2026 bisa melampaui tahun 2025, 2024 bahkan 2023,” ujarnya.
Selain diare, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga tercatat cukup tinggi di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang serta Kecamatan Parenggean. Kondisi ini berkaitan dengan kualitas udara yang menurun selama musim kemarau.
Di sisi lain, genangan air kecil yang tersisa setelah hujan ringan juga dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD). Penyakit ini masih muncul setiap tahun di Kotim meskipun dalam dua tahun terakhir jumlahnya mengalami penurunan.
“Untuk malaria Alhamdulillah kita sudah eliminasi sejak tahun 2018 sehingga tidak ada penularan lokal di Kotim. Kalau ada kasus biasanya berasal dari luar daerah seperti Papua atau Maluku,” katanya.
Namun untuk demam berdarah, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Hingga Maret 2026 tercatat sudah ada 37 kasus sehingga berpotensi meningkat jika kondisi lingkungan mendukung perkembangbiakan nyamuk.
“Jika angka ini terus bergerak maka kemungkinan jumlahnya bisa meningkat dibandingkan tahun 2025, walaupun mungkin tidak setinggi tahun 2023,” ujarnya.
Selain penyakit menular, musim kemarau juga berpotensi memicu masalah kesehatan lain seperti dehidrasi akibat kekurangan cairan tubuh serta potensi gangguan gizi jika kekeringan berdampak pada sektor pertanian.
“Jika kemarau panjang menyebabkan gagal panen, maka asupan nutrisi masyarakat juga bisa terganggu sehingga kelompok rentan berisiko mengalami masalah gizi,” ujarnya.
Nugroho menegaskan bahwa musim kemarau tidak hanya sekadar fenomena alam tetapi juga tantangan kesehatan yang harus diantisipasi sejak dini oleh seluruh pihak.
“Kesimpulannya kemarau bukan sekadar fenomena alam, tetapi tantangan kesehatan yang serius karena banyak faktor yang berdampak pada kesehatan masyarakat,” katanya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post