SAMPIT – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam, mengungkapkan bahwa daerah mulai memasuki fase rawan bencana seiring menurunnya intensitas hujan pasca Lebaran, yang memicu potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
“Di bulan Maret setelah Lebaran ini intensitas hujan sudah mulai menurun. Dari hasil monitoring alat titik muka air tanah kami sudah menurun hampir minus 20, kemudian di beberapa lokasi pantauan pada drainase di desa-desa juga mengalami penurunan hampir 1 meter,” ujar Multazam, Kamis, 26 Maret 2026.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung pada ketersediaan air, khususnya untuk sektor pertanian dan perkebunan. Di sejumlah wilayah, terutama Desa Lampuyang, para petani mulai dihadapkan pada potensi kekeringan di tengah masa panen yang akan segera berlanjut ke musim tanam berikutnya.
“Sekarang masih posisi siap panen, setelah itu mereka akan masuk masa tanam berikutnya yang bertepatan dengan musim kemarau. Ini tentu menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Kalimantan Tengah diperkirakan mulai terjadi pada minggu ketiga Mei, diawali dari wilayah Kapuas dan Pulang Pisau.
Namun, dampak kekeringan di Kotim diperkirakan bisa dirasakan lebih cepat.
Menurut Multazam, kondisi geografis Kotim, khususnya wilayah selatan, sangat rentan terhadap kekeringan. Bahkan, tanpa hujan selama tujuh hari saja sudah dapat memicu kekeringan ekstrem dan meningkatkan risiko kebakaran.
“Di wilayah selatan, tidak hujan selama tujuh hari saja itu kekeringannya cukup luar biasa. Tanaman gulma atau rumput liar sudah mulai mengering sehingga sangat mudah terbakar,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, hingga 25 Maret 2026 terpantau lima titik hotspot, ditambah satu titik pada hari berikutnya. Selain itu, telah terjadi dua kejadian kebakaran sebelumnya, dan satu kejadian kembali terjadi yang mengharuskan tim BPBD turun langsung ke lapangan.
“Kemarin kami melakukan pemadaman di Desa Bangkuang Makmur dengan menurunkan delapan personel. Lokasinya cukup jauh, sekitar 4,5 kilometer dari jalan provinsi, sehingga harus estafet menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua. Luasan kebakaran diperkirakan sekitar 4 sampai 5 hektare,” paparnya.
Multazam menilai, berdasarkan berbagai parameter yang ada, Kotim sebenarnya sudah memasuki status siaga bencana. Namun, pihaknya masih menunggu kepastian dari indikator tinggi muka air tanah yang menjadi salah satu acuan utama.
“Titik muka air tanah di minus 20 itu sudah masuk kategori waspada, sementara di angka 40 sampai 60 itu sudah masuk risiko tinggi. Memang sempat ada hujan pada 17 Maret, tetapi intensitasnya rendah dan tidak merata, sehingga ancaman karhutla tetap ada,” jelasnya.
Selain karhutla, ancaman kekeringan juga menjadi perhatian serius, terutama terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kualitas air yang menurun dapat memicu masalah kesehatan, seperti diare dan penyakit lainnya.
“Kekeringan ini tidak hanya berdampak pada tanaman pangan, tetapi juga pada kebutuhan air bersih masyarakat. Kalau air yang disuplai kualitasnya tidak baik, maka akan berdampak pada kesehatan,” tegasnya.
Ia menambahkan, wilayah selatan Kotim juga berpotensi menghadapi masalah intrusi air laut, terutama saat musim kemarau panjang, yang dapat mempengaruhi kualitas air di Sungai Mentaya hingga ke wilayah Bagendang.
Meski saat ini belum ada laporan krisis air bersih, BPBD tetap melakukan langkah antisipasi dengan menyiapkan skenario penanganan, termasuk kemungkinan distribusi air bersih secara manual ke wilayah terdampak.
Di sisi lain, Multazam mengakui masih terdapat keterbatasan sarana dan prasarana penanganan bencana, terutama peralatan yang sudah mulai usang. Untuk itu, pihaknya akan berupaya menggandeng pihak ketiga guna mendukung kesiapsiagaan di lapangan.
“Peralatan memang tidak sepenuhnya bisa kami penuhi karena ada yang sudah usang. Kita akan upayakan bantuan dari pihak ketiga agar penanganan bisa berjalan optimal,” katanya.
Saat ini, BPBD juga tengah menghimpun data sebagai dasar penyusunan rencana kontinjensi, yang nantinya akan menjadi acuan dalam menentukan langkah penanganan serta evaluasi menghadapi potensi bencana ke depan.
“Kami akan merancang terlebih dahulu sambil menghimpun data agar parameter dalam rencana kontinjensi bisa terpenuhi sebelum melakukan rapat evaluasi,” pungkasnya.
Dengan berbagai indikator yang ada, BPBD mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini terhadap ancaman karhutla dan kekeringan yang diprediksi akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post