SAMPIT – Camat Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Agus Saptono menyampaikan bahwa dari 14 desa yang ada di wilayahnya, hanya Desa Tumbang Penyahuan yang memiliki akses sinyal telekomunikasi, sementara 13 desa lainnya masih berstatus blank spot.
Kondisi ini menjadi kendala serius bagi masyarakat dalam mengakses informasi, layanan komunikasi, hingga pelayanan publik berbasis digital. “Dari 14 desa hanya di Tumbang Penyahuan saja yang ada sinyal, sementara 13 desa lainnya itu blank spot,” ujar Agus Saptono, Minggu 1 Maret 2026.
Selain persoalan sinyal, ia juga menyoroti keterisolasian wilayah akibat belum adanya jalan pemerintah atau jalan negara yang menghubungkan Kecamatan Bukit Santuai dengan kecamatan lain. “Hingga saat ini, akses masyarakat masih bergantung pada jalur milik perusahaan PT HWL yang telah memiliki jembatan dan badan jalan,”ucapnya.
Agus menjelaskan, pemerintah kecamatan telah mengusulkan skema pinjam pakai kawasan hutan sejak beberapa tahun terakhir. Pasalnya, Bukit Santuai menjadi satu-satunya kecamatan di wilayah utara Kotim yang belum memiliki akses jalan resmi milik pemerintah.
“Selama ini kami numpang akses di PT HWL. Memang sudah ada jembatan dan badan jalan, tetapi untuk peningkatan dan pemeliharaan jalan selanjutnya kami terkendala status kawasan hutan,” jelasnya. Dia berharap persoalan blank spot dan keterbatasan infrastruktur jalan ini dapat menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Dengan adanya dukungan dan percepatan penyelesaian status kawasan, masyarakat Bukit Santuai diharapkan dapat menikmati akses komunikasi dan transportasi yang lebih layak serta mendorong pemerataan pembangunan di wilayah utara Kotim.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post