SAMPIT – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mewaspadai potensi peningkatan penyakit diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seiring masuknya musim kemarau. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, menyebut dua penyakit tersebut paling sering muncul saat kondisi cuaca kering dan tidak stabil.
“Jadi kalau terkait dengan kemarau, biasanya ada dua penyakit yang sering berkembang, yaitu yang pertama diare, yang kedua adalah ISPA,” ujar Nugroho, Jumat 23 Januari 2026.
Menurutnya, diare menjadi penyakit yang paling berisiko fatal apabila terlambat mendapatkan penanganan medis. Karena itu, ia menegaskan pentingnya peran keluarga untuk segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan.
“Untuk diare sendiri, biasanya yang paling fatal kalau terlambat untuk mendapatkan penanganan, baik itu pengobatan ataupun dari keluarganya datang ke fasilitas kesehatan. Jadi kalau untuk diare itu memang harus 1 kali 24 jam ketika diare harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut,” tegasnya.
Berdasarkan data pemantauan Dinkes Kotim, perbandingan kasus diare pada minggu pertama dan minggu kedua tahun 2025 dan 2026 masih relatif sama dan belum menunjukkan peningkatan signifikan. Namun, kondisi berbeda terlihat pada ISPA.
“Kalau untuk ISPA ada di minggu pertama peningkatan yang signifikan mungkin karena pengaruh cuaca yang tidak stabil atau ada hal-hal lain, karena ISPA ini kan banyak penyebabnya. Tapi insya Allah dalam kondisi yang terkendali,” jelas Nugroho.
Ia merinci, pada minggu pertama tahun 2026 tercatat 96 kasus diare, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang berjumlah 69 kasus. Pada minggu kedua, jumlah kasus diare tercatat sama.
Sementara untuk ISPA, pada minggu pertama tahun 2025 terdapat 379 kasus, sedangkan tahun 2026 sebanyak 323 kasus. Namun pada minggu kedua terjadi lonjakan, dari 438 kasus di tahun 2025 menjadi 628 kasus di minggu kedua tahun 2026.
“Kemudian ada peningkatan, tapi sementara ini masih dalam tahap terkendali,” ujarnya.
Untuk akumulasi kasus diare sepanjang Januari 2026 hingga minggu kedua, Nugroho menyebut jumlahnya mencapai sekitar 229 kasus. Ia menambahkan, peningkatan kasus mulai terlihat sejak minggu pertama hingga minggu kedua.
“Diare meningkatnya minggu pertama, minggu pertama minggu kedua meningkat. Tapi kalau melihat kondisi tahun 2024–2025 itu minggu ketiga menurun,” katanya.
Dalam catatan Dinkes, satu kasus kematian akibat diare terjadi di wilayah Mentaya Hulu yang disebabkan oleh keterlambatan penanganan. Terkait tren tahunan, Nugroho menjelaskan bahwa peningkatan di awal tahun merupakan pola yang kerap terjadi.
“Ada peningkatan yang cukup signifikan, tapi itu kan kelanjutan dari tahun 2025. Biasanya di awal-awal tahun memang ada, jadi grafik itu kan dia akan naik, tapi nanti akan menurun-menurun. Insya Allah,” tuturnya.
Menghadapi musim kemarau dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dinkes Kotim telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Salah satunya adalah penyediaan masker yang sebenarnya telah dipersiapkan sejak tahun 2023.
“Yang pertama untuk persediaan masker, itu sudah dipersiapkan dan itu sebenarnya sudah kami persiapkan dari tahun 2023 ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan. Tapi Alhamdulillah tahun 2023 setelah pengadaan itu kondisi mereda dan aman sehingga masker itu kami siapkan untuk tahun ini,” ungkap Nugroho.
Untuk masker anak, Dinkes Kotim memiliki 39 dus, dengan rincian satu dus berisi 20 box dan satu box berisi 50 lembar masker. Dari jumlah tersebut, 12 dus telah didistribusikan ke 11 puskesmas, sehingga masih tersisa 27 dus di gudang Dinkes.
Sementara masker dewasa tersedia 43 dus, dengan isi satu dus sebanyak 40 box. Sebanyak 13 dus telah didistribusikan, dan 30 dus masih disimpan sebagai stok antisipasi karhutla.
Selain masker, ketersediaan obat-obatan di puskesmas dinyatakan cukup, termasuk obat ISPA, obat diare, serta infus. Namun, kendala utama saat ini adalah keterbatasan stok oralit.
“Hanya kita yang terbatas sekarang adalah oralit. Karena ini merupakan program dari pemerintah untuk penanganan diare ini, jadi kami mendapatkan oralit ini dari Kementerian Kesehatan yang didistribusikan oleh Dinkes Provinsi,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa stok oralit di Dinkes Provinsi sejak Desember lalu kosong. Pemenuhan oralit harus melalui pengusulan ke tingkat provinsi, dan Kotim telah mengajukan permintaan tersebut.
“Stok oralit di gudang Dinkes saat ini ada 800 saset. Di puskesmas masih ada tapi tidak merata. Kebutuhan itu tergantung, kalau persediaan air bersih untuk masyarakat itu cukup, insya Allah tidak terjadi diare. Tapi kalau kondisi air bersih kurang, itu yang biasa potensi penularan diare. Jadi 800 menurut Dinkes masih kurang, sangat kurang,” katanya.
Nugroho juga menegaskan bahwa pembuatan oralit secara mandiri oleh masyarakat tidak dianjurkan.
“Membuat oralit sendiri untuk saat ini tidak dianjurkan karena seringkali masyarakat salah dalam membuat takarannya. Jadi lebih aman untuk menggunakan oralit,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat berperan aktif dalam upaya pencegahan penyakit selama musim kemarau.
“Kami cuma mengharapkan dari masyarakat agar berpartisipasi. Yang pertama terkait dengan kita menghadapi siklon tropis yang salah satunya berdampak pada kebakaran hutan dan lahan. Jadi untuk antisipasi di bidang kesehatan, jangan membakar hutan dan lahan,” imbaunya.
Selain itu, masyarakat diminta memastikan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
“Jangan sampai kebutuhan air bersih itu yang mesti bisa untuk minum, untuk masak itu kurang. Sehingga untuk mencuci peralatan makan minum itu kurang, sehingga nanti akan berdampak pada diare,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan serta menghindari kebiasaan menggosok hidung saat tangan kotor.
“Sehingga itu bisa berdampak untuk infeksi saluran pernafasan,” pungkas Nugroho.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post