PALANGKA RAYA – Badan Meteorologi, Klima itutologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya menyampaikan bahwa puncak musim hujan di Kalimantan Tengah tahun ini terjadi lebih awal dari biasanya. Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena La Niña yang menyebabkan curah hujan meningkat lebih tinggi dari normal.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Tjilik Riwut, Anton Budiyono, menjelaskan bahwa Kalimantan Tengah saat ini sudah sepenuhnya memasuki musim hujan dengan pola curah hujan yang lebih basah dari kondisi rata-rata tahunan. “Puncak musim hujan tahun ini diperkirakan terjadi pada Oktober hingga November, lebih cepat dari biasanya yang umumnya terjadi di Desember atau Januari,” ujar Anton, Kamis 6 November 2025.
Meski begitu lanjutnya, curah hujan masih akan tetap tinggi hingga Januari, bahkan bisa berlanjut sampai Maret 2026. Menurut BMKG, peningkatan curah hujan diperkirakan terjadi hampir di seluruh wilayah Kalimantan Tengah, namun wilayah bagian utara atau daerah hulu sungai seperti Murung Raya, Barito Utara, Gunung Mas, dan Seruyan memiliki potensi hujan lebat yang lebih tinggi.
Anton menambahkan bahwa kondisi geografis Kalimantan Tengah yang relatif datar membuat distribusi hujan lebih merata. Namun, hal ini juga berarti daerah di bagian hilir sungai berisiko mengalami banjir kiriman dari wilayah hulu. “Yang harus diwaspadai adalah banjir kiriman. Air dari hulu bisa berdampak pada wilayah tengah dan selatan, karena karakteristik sungai di Kalteng memungkinkan air mengalir luas hingga ke dataran rendah,” jelasnya.
BMKG memprediksi fenomena La Niña akan berlangsung hingga Februari 2026, dengan dampak utama berupa curah hujan yang meningkat tajam. Karena itu, Anton mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, genangan, dan banjir tiba-tiba.
“Kami mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah agar siaga terutama pada November, Desember, dan Januari, saat curah hujan berada pada puncaknya. Pantau terus informasi cuaca dari BMKG. Banjir bisa datang tiba-tiba, terutama di wilayah dataran rendah yang menerima aliran air dari hulu sungai,” pungkasnya.

Pemprov Kalteng Perkuat Koordinasi Antisipasi Banjir, BPBD Fokuskan Pemantauan dari Hulu ke Hilir
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi memperkuat koordinasi lintas wilayah dalam menghadapi potensi banjir yang mulai meningkat sejak awal November 2025. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Kalteng, Alpius Patanan, mengatakan bahwa sejak 6 Oktober 2025, BPBD Provinsi telah rutin menggelar rapat koordinasi mingguan bersama BPBD kabupaten/kota, camat, kepala desa, dan lurah.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan informasi peringatan dini dari tingkat provinsi dapat segera diteruskan ke masyarakat. “Kegiatan ini kami laksanakan setiap hari Senin khusus untuk antisipasi banjir. Tahun sebelumnya hanya tiga kali dalam satu musim, tapi kali ini kita perkuat karena potensi bencana cukup tinggi,” ujar Alpius saat ditemui di Lapangan Barigas Polda Kalteng.
Menurutnya, hampir seluruh wilayah Kalteng memiliki tingkat kerawanan banjir, terutama kawasan yang berada di aliran sungai besar. Potensi banjir biasanya dimulai dari wilayah hulu, kemudian bergerak ke tengah dan selatan. “Daerah yang sering terdampak di antaranya Murung Raya, Barito Utara, Gunung Mas, Barito Selatan, Lamandau, Seruyan bagian hulu, dan Kapuas bagian hulu,” jelasnya.
“Sementara wilayah selatan seperti Sukamara, Kotawaringin Barat, Pulang Pisau, hingga Kapuas, lebih sering tergenang akibat pasang air laut,” tambahnya. Hingga saat ini, beberapa daerah telah menetapkan status siaga, di antaranya Sukamara dan Kapuas, sementara daerah lainnya masih dalam tahap pemantauan.
Meski demikian, BPBD Provinsi berharap agar mekanisme penanganan di tingkat kabupaten dapat berjalan optimal sehingga tidak perlu menetapkan status siaga di tingkat provinsi. “Kalau respon di bawah sudah sigap, status tidak perlu dinaikkan ke tingkat provinsi. Karena prinsipnya, pencegahan akan lebih efektif kalau kabupaten, camat, dan kepala desa sudah menyiapkan langkah antisipasi lebih awal,” tegas Alpius.
Dalam menghadapi potensi banjir, BPBD Provinsi Kalteng juga telah menyiagakan empat regu di Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi) yang berfungsi sebagai pusat koordinasi dan dukungan cepat. “Pelaksana utama tetap di kabupaten dan kecamatan, sementara provinsi fokus pada koordinasi dan dukungan logistik. Respon cepat akan maksimal kalau seluruh perangkat di lapisan paling depan mulai dari kecamatan, desa, hingga kelurahan sudah siap,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post