PALANGKA RAYA – Target program cetak sawah seluas 85 ribu hektare di Kalimantan Tengah tahun ini masih menemui berbagai kendala, mulai dari persoalan lahan hingga minimnya kesiapan kontraktor dalam penyediaan alat berat.
Wakil Gubernur Kalteng, Edy Pratowo, mengatakan seluruh pihak terkait sudah bergerak di lapangan untuk mempercepat progres. “Teman-teman dari kementerian, dinas, dan Satgas sudah turun, mendorong supaya progresnya segera terlihat,” ujarnya, Kamis 17 Juli 2025.
Menurut Edy, realisasi di lapangan kerap tidak sesuai dengan perencanaan di atas kertas. Contohnya, dalam Studi Investigasi Detail (SID), satu lokasi tercatat bisa dicetak seluas 1.000 hektare, tetapi setelah dicek hanya sekitar 500 hektare yang layak, karena sisanya sudah digunakan warga.
“Masalahnya soal clear and clean lahan di lapangan,” jelasnya. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Kalteng, Rendy Lesmana, menegaskan bahwa penyedia jasa yang telah terikat kontrak harus bertanggung jawab penuh atas kelengkapan pekerjaan.
“Kalau namanya sudah berkontrak, semuanya harus disiapkan. Baik alat berat, operator, maupun perlengkapan lain,” ujarnya, saat ditemui di Aula Jayang Tingang. Rendy juga menekankan bahwa jika terdapat kendala internal di pihak kontraktor, hal itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka. “Kalau permasalahan internal, ya itu masalah internal kontraktor,” ucapnya.
Ia juga menegaskan penyedia yang tidak siap memenuhi kewajiban akan dievaluasi. “Kalau penyedia tidak bisa menyediakan alat berat, operator, dan perlengkapan lain sesuai kontrak, itu berarti mereka tidak punya komitmen. Kalau tidak bisa menjalankan tugas dan kewajibannya. wajib bagi kami dan Kementan untuk memutus kontrak,” tegasnya.
Ia juga meminta semua penyedia pekerjaan memperhatikan tenggat waktu, dan tim pengawas memastikan pelaksanaan proyek sesuai dengan rencana, petunjuk teknis, dan target. “Mohon kerja sama tim pengawas untuk mengevaluasi pekerjaan konstruksi sesuai arahan Menteri Pertanian,” tambah Rendy.
Bagi penyedia yang memiliki keterbatasan alat atau progres yang lambat, Rendy menyarankan dilakukan addendum kontrak untuk penyesuaian waktu atau ruang lingkup pekerjaan, sebagai langkah percepatan. Jika lahan sudah bersih dan rata, maka proses pengolahan untuk penanaman padi bisa segera dimulai. Program cetak sawah ini diharapkan memperluas lahan produktif dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post