SAMPIT – Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati, mengapresiasi langkah aktif para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kecamatan Ketapang dan Baamang dalam mendorong partisipasi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mengikuti program Sekolah Rakyat Dasar (SRD) dan Sekolah Rakyat Lanjutan Tingkat Atas (SRLTA).
“Saya mengapresiasi langkah pendamping PKH yang telah melakukan rapat koordinasi dan pendekatan langsung kepada keluarga penerima manfaat. Pendekatan yang humanis dan persuasif, khususnya terhadap keluarga yang sebelumnya menolak, menunjukkan komitmen kita bersama terhadap pentingnya pendidikan sebagai hak dasar setiap anak,” kata Irawati, Kamis 17 Juli 2025.
Ia pun turun langsung mengunjungi salah satu rumah KPM untuk berkomunikasi dengan orang tua calon peserta Sekolah Rakyat.
“Alhamdulillah, melalui dialog yang baik dan kekeluargaan, keluarga tersebut akhirnya bersedia mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan Sekolah Rakyat. Saya berharap semangat kebersamaan dan kolaborasi seperti ini terus dijaga dan menjadi contoh untuk program sosial lainnya,” ucapnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Kotim, Hawianan, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih dalam tahap seleksi dan verifikasi calon siswa.
“Sekolah Rakyat belum dimulai karena kebijakan dari kementerian memang seperti itu. Saat ini kami sedang menyeleksi calon siswa, data sudah kami kirim dan hari ini merupakan hari terakhir verifikasi lapangan bersama BPS,” jelasnya.
Menurut Hawianan, verifikasi dilakukan termasuk kepada calon siswa yang tidak terdaftar dalam DTKS, namun didukung dengan surat keterangan tidak mampu dari desa atau kelurahan.
“Walaupun tidak terdata, tetap kami usulkan. Karena itu BPS juga mendampingi wawancara langsung untuk menilai kelayakan,” ungkapnya.
Dari hasil sementara, terjaring 14 calon siswa tingkat SD dan 56 calon siswa tingkat SMA.
“Untuk SD memang cukup sulit mencari peserta, sedangkan SMA malah melebihi kuota. Target kuota untuk masing-masing jenjang adalah 50 siswa. Jika 56 calon SMA bisa diterima, tentu kami bersyukur. Namun jika tetap 50, akan dilakukan seleksi kembali,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh data dan laporan sudah dikirim ke pusat sesuai jadwal pada 11 Juli lalu. Pihaknya kini menunggu petunjuk teknis lanjutan dari kementerian, baik terkait guru, waktu mulai sekolah, maupun teknis pelaksanaan lainnya.
“Persiapan ruang belajar di Islamic Center juga sedang dibenahi. Kendala utama di tingkat SD adalah keengganan orang tua melepas anaknya tinggal di asrama karena masih kecil,” ujarnya.
Ia menyebut, kekhawatiran orang tua cukup wajar. Namun menurut pandangan kementerian, pendidikan karakter lebih efektif dibangun sejak usia dini.
“Kami tetap targetkan Sekolah Rakyat berjalan tahun ini. Walau agak lambat dari sekolah reguler, hanya butuh sedikit penyesuaian. Untuk kebijakan lebih lanjut, kami menunggu arahan pusat,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post