PALANGKA RAYA – Sekretaris Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah (Kalteng), Rainer Danny P. Mamahit, mengingatkan bahwa kasus HIV-AIDS di wilayah ini dapat diibaratkan sebagai fenomena gunung es.
Meskipun terlihat seolah-olah tidak ada masalah besar, ia menegaskan bahwa jika pencegahan tidak segera dilakukan, dampaknya akan semakin berat di masa depan. “Jika kita keliru atau mengabaikan upaya pencegahan, suatu saat nanti kita akan menyesal karena semuanya sudah terlambat,” ungkapnya, Minggu 17 November 2024.
HIV-AIDS kini telah menjadi persoalan global, yang sebelumnya hanya terjadi di Afrika, namun kini virus ini telah menyebar luas, termasuk di Kalimantan Tengah. Mamahit menjelaskan bahwa semua kabupaten/kota di Kalteng kini melaporkan adanya kasus HIV-AIDS.
“Tidak hanya di ibu kota kabupaten, tetapi juga di pelosok desa, pasien HIV-AIDS sudah dirawat di rumah sakit,” jelasnya. Meskipun sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV, ada obat antiretroviral (ARV) yang membantu penderita untuk tetap hidup produktif.
Mamahit menambahkan, persoalan HIV-AIDS bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga perlu melibatkan masyarakat luas mengingat gaya hidup modern yang meningkatkan risiko penularan.
Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kalteng, Saidah Suryani, menyatakan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara di Asia dengan laju perkembangan epidemi HIV yang tercepat. “Jumlah kasus HIV-AIDS di Indonesia terus meningkat sejak pertama kali ditemukan pada 1987,” paparnya.
Menurut data, dalam lima tahun terakhir, Kalimantan Tengah telah melaporkan 2.722 kasus HIV-AIDS, yang terdiri dari 1.736 kasus HIV dan 986 kasus AIDS. Sebaran kasus tertinggi masih terjadi di Kota Palangka Raya, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat.
Suryani menjelaskan, Kota Palangka Raya sebagai pusat pemerintahan dan pelayanan kesehatan memiliki banyak tenaga penjangkau dan pendamping untuk orang dengan HIV (ODHIV), yang berkontribusi dalam penanganan kasus di wilayah ini.
Seiring waktu, kasus HIV-AIDS tidak lagi hanya melibatkan pekerja seks, tetapi juga ibu rumah tangga. Sejak 2016 hingga 2018, jumlah kasus pada ibu rumah tangga meningkat pesat, dan bahkan menduduki peringkat tertinggi.
Suryani juga menambahkan, pada 2019, lelaki seks dengan lelaki (LSL) menjadi kelompok yang paling banyak terinfeksi HIV, dan pada 2022, Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya melaporkan bahwa pegawai ASN, TNI/Polri, mahasiswa, dan pekerja swasta menjadi kelompok dengan kasus HIV-AIDS tertinggi di kota tersebut.
Penyebaran HIV-AIDS yang semakin luas ini menunjukkan bahwa penyakit ini kini menjadi masalah yang harus ditangani bersama, melibatkan sektor kesehatan, pemerintah, serta masyarakat secara keseluruhan.
(vi/matakalteng)





















Discussion about this post