PALANGKA RAYA – Kenaikan harga beberapa komoditas di Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi perhatian bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko menyatakan, bahwa beberapa daerah di Kalteng mengalami kenaikan harga daging sapi, dengan harga mencapai Rp160.000. Inflasi Kota Palangka Raya dan Sampit masih dalam tingkat yang normal, tetapi beberapa kabupaten seperti Murung Raya dan Barito Utara mengalami kenaikan harga.
“Untuk mengatasi kenaikan harga, perlu diambil tindakan yang tepat dan efektif. Pemerintah akan memastikan stok dan pasokan komoditas agar tidak terjadi kenaikan harga yang berlebihan. Selain itu, ketersediaan alternatif sumber protein seperti ikan dan kacang-kacangan dapat mempengaruhi kebutuhan masyarakat akan daging,” ujarnya, Rabu, 20 Desember 2023.
Dirinya juga mengatakan, bahwa daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami kenaikan harga di pasar saat ini. Namun, perlu diingat bahwa kenaikan harga pada suatu komoditas dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat permintaan dan pasokan, kondisi musim, dan kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, meningkatkan kualitas peternakan lokal dapat membantu mengendalikan harga serta meningkatkan pendapatan peternak. Hal ini dapat dilakukan melalui upaya modernisasi peternakan dan penggunaan teknologi yang lebih efektif.
Sebelumnya pada Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Tahun 2023 bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dipimpin langsung Sekjen Kemendagri Suhajar Diantoro mewakili Mendagri Tito Karnavian di ruang Sasana Bakti Praja (SBP) Kemendagri, Jakarta Pusat.
Disebutkan kondisi inflasi di Indonesia selalu menjadi perhatian, baik dari pihak pemerintah, pelaku bisnis, maupun masyarakat umum. Rilis Badan Pusat Statistik pada tanggal 1 Desember 2023 menyatakan bahwa inflasi Provinsi dan Kabupaten/Kota pada Bulan November 2023 tercatat pada 10 Provinsi tertinggi, antara lain Lampung, Maluku Utara, Bangka Belitung, dan lain-lain. Sementara itu, 10 Provinsi terendah antara lain Aceh dan Papua.
Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik, Pudji Ismartini, menyampaikan andil inflasi Desember menurut kelompok pengeluaran dalam lima tahun terakhir selalu terjadi inflasi pada bulan Desember. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok transportasi cenderung memberikan andil inflasi terbesar pada bulan Desember.
“Beberapa komoditas tertentu seperti angkutan udara, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah cenderung mengalami kenaikan harga pada saat menjelang Natal dan Tahun Baru,” ungkapnya.
Pentingnya pemahaman tentang kondisi inflasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Inflasi sendiri dapat mempengaruhi kondisi ekonomi dengan berbagai cara, termasuk pengaruh terhadap kekuatan beli masyarakat. Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi banyak dan kompleks, termasuk kebijakan moneter, ketersediaan sumber daya, serta perkembangan perekonomian global.
Dalam perannya sebagai konsumen, masyarakat juga dapat memainkan peran penting dalam mengendalikan inflasi dengan sistem pengelolaan keuangan yang baik, serta penggunaan sumber daya secara bijaksana. Di samping itu, pelaku bisnis juga harus mempertimbangkan stok dan rantai pasok agar kenaikan harga tidak terjadi secara berlebihan.
“Upaya untuk mengurangi inflasi juga memerlukan kerja sama antara pemerintah, bisnis, dan masyarakat. Tren inflasi perlu dipahami dengan baik dan diantisipasi akan berbagai faktor yang mempengaruhi, baik secara internal maupun eksternal,” pungkasnya.
(vi/matakalteng)





















Discussion about this post