SAMPIT – Sebelum dilahap si jago merah, rumah kosong yang berada di Jalan Ahmad Yani tepatnya di depan warung makan wong solo, Kecamatan MB Ketapang, Kota Sampit. Rumah tersebut diduga jadi tempat kumpul anak-anak jalanan untuk maksiat.
Rumah kosong tersebut, hangus dilalap api pada Selasa, 18 November 2025, sekitar pukul 15.20 WIB. Menurut kesaksian warga sekitar bernama Sandra, bangunan tersebut sudah lama tidak berpenghuni. Kondisi itu membuat rumah tersebut sering dimasuki oleh anak-anak jalanan tanpa pengawasan.
“Mereka sering menghisap lem di dalam situ. Bahkan tidak jarang laki-laki dan perempuan masuk bersama ke dalam rumah kosong itu,” ujar Sandra.
Sandra menduga bahwa kebakaran yang terjadi kemungkinan dipicu aktivitas anak-anak tersebut. Ia memastikan rumah itu tidak memiliki sambungan listrik, sehingga kecil kemungkinan kebakaran diakibatkan korsleting.
“Tidak ada listrik di rumah itu. Jadi kalau penyebabnya korsleting saya rasa tidak. Kemungkinan ada ulah dari anak-anak itu,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemadaman, Penyelamatan, dan Sarana Prasarana Damkarmat Kotim, Yayat Hidayat membenarkan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda adanya arus listrik di lokasi kebakaran.
“Dari hasil pemeriksaan sementara, tidak ada tanda konsleting listrik. Rumah ini memang sudah lama tidak dialiri listrik,” jelas Yayat.
Yayat juga menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya di lapangan, bangunan tersebut merupakan aset milik pemilik Toko Matahari Foto (berdasarkan informasi) di Sampit. Rumah itu sudah tidak ditempati selama bertahun-tahun dan sangat rentan dijadikan tempat mangkal.
“Informasi yang kami terima, ini bangunan milik pemilik Toko Matahari Foto. Dari laporan warga, kebakaran bersumber dari anak-anak yang sering menggunakan tempat ini,” jelasnya.
Menurut keterangan warga, rumah kosong itu kerap dijadikan tempat menginap sementara oleh anak-anak punk dan kelompok tunawisma yang sering berkeliaran di kawasan tersebut. Aktivitas mereka di tempat gelap dan tertutup itu diduga kerap melibatkan api untuk penerangan atau memasak sehingga sangat rawan memicu kebakaran.
Damkarmat Kotim menerima laporan kebakaran pada pukul 15.15 WIB. Selanjutnya, sekitar 25 personel diterjunkan ke lokasi dibantu oleh relawan Ketapi 3, relawan Baamang Tengah, BPBD Kotim, PMI, serta aparat Kepolisian untuk mengatur lalu lintas serta mengamankan area.
“Proses pemadaman berlangsung sekitar 30 menit hingga pendinginan. Untungnya api bisa cepat dikendalikan dan tidak merembet ke bangunan lain yang berdekatan,” jelas Yayat.
Dalam proses pemadaman itu, satu petugas Damkar mengalami insiden akibat tertimpa robohan dinding rumah yang sudah rapuh. Meski begitu, insiden tersebut tidak menimbulkan cedera serius.
“Saat memeriksa bagian dalam bangunan, ada dinding yang roboh dan menimpa petugas kami. Untungnya mereka menggunakan APD lengkap sehingga tidak ada luka berat,” pungkasnya.
(gus/matakalteng)





















Discussion about this post