SAMPIT – Pencarian terhadap seorang pria yang diduga melakukan bunuh diri dengan melompat dari kapal Dharma Ferry 6 di Teluk Sampit resmi dihentikan setelah memasuki hari ketujuh operasi, Senin 21 April 2025.
Hal ini disampaikan langsung oleh Koordinator Pos SAR Sampit, Ridwan, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.
“Pencarian korban sudah memasuki hari ketujuh, dan karena tidak ada tanda-tanda keberadaan korban serta dinilai tidak efektif lagi, maka operasi SAR besar kami hentikan. Selanjutnya, kami akan masuk pada fase pemantauan,” jelas Ridwan, Selasa 22 April 2025.
Ia menambahkan, pemantauan akan terus dilakukan, dan jika ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan korban, operasi pencarian akan kembali dilanjutkan.
Selama proses pencarian, tim SAR menghadapi sejumlah kendala di lapangan, seperti cuaca yang berubah-ubah, alat pendukung (alut) yang terbatas, serta area pencarian yang semakin meluas.
“Set area pencarian cukup luas, mencapai radius 7 mil laut dari titik terakhir korban terlihat. Kondisi cuaca juga tidak menentu, ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim,” katanya.
Selain melakukan penyisiran di area yang ditentukan, tim SAR juga melakukan pemapelan atau penyebaran informasi kepada nelayan dan kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi. Langkah ini dilakukan agar apabila terdapat temuan mencurigakan di perairan, tim SAR bisa segera bergerak.
Ridwan juga menjelaskan secara teknis mengenai proses timbulnya jenazah di air, berdasarkan pengalaman operasi di lapangan.
“Kalau orang dewasa, biasanya tubuh baru mengapung dalam waktu 30 sampai 36 jam setelah tenggelam, akibat proses pembusukan yang menghasilkan gas. Tapi ini tergantung kondisi tubuh korban, apakah ada luka atau tidak. Kadang kalau tubuhnya utuh, bisa lebih lama. Dan jika sudah mengapung untuk beberapa waktu hingga hancur akan tenggelam kembali,” ujar Ridwan.
Meski operasi skala besar dihentikan, Pos SAR Sampit menegaskan bahwa komitmen untuk memberikan layanan pencarian dan pertolongan tetap berjalan, dengan pemantauan aktif terhadap perkembangan situasi di lapangan.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post