SAMPIT – Upaya memperkuat karakter siswa di tengah tantangan era digital menjadi perhatian utama dalam pembinaan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang dilaksanakan melalui program pengembangan kompetensi oleh Dinas Pendidikan setempat.
Pemateri kegiatan, Suyoso, menegaskan bahwa program ini tidak sekadar pelatihan biasa, melainkan bagian dari strategi besar dalam membekali guru agar mampu menjawab fenomena penurunan karakter siswa yang mulai teridentifikasi.
“Program ini menyasar guru PAI se-Kotim dengan melibatkan fasilitator dari tingkat SMA dan SMP yang sudah dilatih. Materinya fokus pada penguatan kompetensi guru dalam menerapkan kurikulum dengan model pembelajaran mendalam,” ujarnya, Selasa 21 April 2026.
Ia menjelaskan, konsep pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi pendekatan utama agar guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mampu membentuk pemahaman, sikap, dan karakter siswa secara utuh.
Dalam pelatihan ini, para guru dibekali kemampuan menyusun perencanaan, melaksanakan pembelajaran, hingga melakukan asesmen secara komprehensif.
“Guru dilatih mulai dari menyusun program, mempraktikkan pembelajaran, melibatkan berbagai pihak, sampai pada asesmen. Jadi benar-benar menyeluruh,” jelasnya.
Lebih lanjut, Suyoso menekankan peran strategis guru PAI sebagai filter dalam membentuk karakter generasi muda, terutama di tengah derasnya arus digitalisasi. Ia menyebut, salah satu fokus penting adalah penerapan konsep “gawai bijak” sebagaimana diatur dalam kebijakan pemerintah, serta pembentukan budaya sekolah yang aman dan nyaman.
“Guru PAI diharapkan mampu menjadi filter, memperkuat karakter siswa, membiasakan penggunaan gawai secara bijak, dan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif,” katanya.
Menurutnya, fenomena menurunnya karakter siswa saat ini tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang tepat agar siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat.
“Harapannya, guru memiliki strategi yang tepat dalam mendampingi tumbuh kembang anak, baik dari sisi karakter, etika digital, maupun kebiasaan positif di sekolah,” tambahnya.
Dalam pelatihan ini, juga ditekankan pentingnya perubahan pola pikir guru serta keterlibatan orang tua sebagai mitra pendidikan. Melalui pendekatan kolaboratif, orang tua diharapkan berperan aktif dalam mendukung proses pembelajaran dan pembentukan karakter anak di rumah.
“Orang tua memiliki peran penting, baik dalam pendampingan di rumah maupun mendukung program sekolah sesuai potensi masing-masing,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu peserta, Guru PAI Yunita, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Ia menilai pendekatan pembelajaran mendalam yang dikombinasikan dengan kurikulum berbasis cinta mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna.
“Alhamdulillah banyak ilmu yang kami dapatkan, terutama dalam meningkatkan kompetensi sebagai guru PAI dan bagaimana memberikan pembelajaran yang menyenangkan kepada murid,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelatihan ini juga menjadi sarana refleksi bagi para guru untuk terus memperbaiki diri dalam menjalankan peran sebagai pendidik.
“Kami bisa merefleksi diri agar ke depan menjadi guru yang lebih baik lagi,” katanya.
Yunita menegaskan, hasil pelatihan akan langsung diaplikasikan dalam proses belajar mengajar dengan mengedepankan pembelajaran yang bermakna, kolaboratif, dan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi siswa.
“Kami akan menerapkan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan melibatkan kolaborasi, baik dengan siswa maupun lingkungan sekitar,” jelasnya.
Ia berharap, melalui peningkatan kompetensi ini, guru PAI di Kotim mampu bersaing dan tidak tertinggal dibandingkan dengan guru mata pelajaran lainnya, sekaligus berkontribusi dalam membentuk generasi yang berkarakter kuat.
“Harapannya, guru PAI di Kotim semakin kompeten dan mampu mencetak siswa dengan karakter yang baik,” tandasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post