SAMPIT – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Muhammad Irfansyah, menegaskan pentingnya pelestarian bahasa daerah, khususnya bahasa Sampit, yang menjadi identitas khas daerah tersebut. Dia menilai, selama ini masyarakat lebih mengenal bahasa Dayak Ngaju, padahal Sampit juga memiliki bahasa daerah tersendiri yang perlu diperkenalkan dan dibangkitkan kembali.
“Bahasa daerah itu memang tidak wajib, tapi sangat dianjurkan digunakan di luar kelas. Jadi sebelum masuk ke ruang belajar, anak-anak boleh berbahasa daerah. Namun, ketika sudah di dalam kelas, wajib menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,” jelas Irfansyah, Minggu 2 November 2025. Dia mencontohkan, penggunaan bahasa daerah bisa dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekolah, seperti sapaan atau salam lokal.
“Misalnya ketika menyapa teman atau guru bisa dengan ucapan ‘narai kabar’ atau ‘selamat hanjewu’. Itu bentuk pelestarian kecil tapi bermakna,” ujarnya. Menurutnya, upaya pelestarian bahasa daerah tidak harus dilakukan secara formal di dalam pembelajaran, tetapi dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan keseharian di lingkungan sekolah.
“Kami berharap, di luar kelas, bahasa pergaulan di sekolah bisa diarahkan menggunakan bahasa daerah. Itu akan menumbuhkan kebanggaan dan menjaga keberlangsungan bahasa ibu di kalangan pelajar,” imbuhnya. Irfansyah juga mengungkapkan bahwa pihaknya bersama Balai Bahasa telah berdiskusi mengenai program pelestarian bahasa daerah, termasuk ide penerapan identitas sekolah yang memuat unsur bahasa lokal.
“Kemarin kami juga menyarankan agar di sekolah-sekolah ada tanda-tanda atau papan nama masuk dan keluar yang menggunakan bahasa daerah, terutama bahasa Sampit. Jadi bukan hanya bahasa Dayak Ngaju yang dikenal, tetapi bahasa Sampit juga harus muncul dan digunakan,” katanya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Sampit bukan hanya nama kota, melainkan juga nama sebuah bahasa yang memiliki nilai budaya tinggi.
“Sampit itu bukan cuma nama daerah atau kuliner, tapi juga nama bahasa. Karena itu, sudah seharusnya dikenal luas dan dilestarikan. Bahasa Sampit harus jadi identitas kita,” tegasnya. Disdik Kotim berencana untuk terus melakukan sosialisasi secara bertahap agar masyarakat, terutama di lingkungan pendidikan, lebih mengenal dan menggunakan bahasa Sampit.
“Ini proses panjang, tapi kami optimistis dengan dukungan sekolah dan masyarakat, pelestarian bahasa Sampit bisa berjalan baik. Harapan kami, ke depan Sampit dikenal bukan hanya karena kotanya yang maju, tapi juga karena bahasanya yang hidup dan lestari,” pungkas Irfansyah.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post