SAMPIT – Sebanyak 15 pelajar dari jenjang SD dan SMP di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berangkat mewakili daerah mereka untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 3–5 November 2025 dan menjadi ajang bergengsi dalam upaya pelestarian bahasa daerah.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kotim, Muhammad Irfansyah, saat melepas para peserta mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar ajang perlombaan, tetapi juga bagian penting dalam menjaga kekayaan budaya daerah.
“Hari ini kami dari Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur melepas putra-putri kita yang ikut FTBI tingkat provinsi Kalimantan Tengah. Harapan saya, selain mengikuti lomba, anak-anak juga bisa menjadi pelestari bahasa daerah, terutama bahasa Sampit,” ucap Irfansyah, Minggu 2 Oktober 2025.
Ia menambahkan, melalui kegiatan FTBI ini, pihaknya berharap sekolah-sekolah dapat menjadi wadah utama dalam menjaga dan menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa daerah. “Kami ingin agar melalui sekolah-sekolah, bahasa daerah khususnya bahasa Sampit bisa terus dilestarikan dan diwariskan ke generasi berikutnya,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 1 Sampit, Yuli Karyati, menjelaskan bahwa para peserta yang berangkat telah melalui proses seleksi ketat di tingkat kabupaten. “Festival Tunas Bahasa Ibu ini diikuti oleh perwakilan dari Kotim untuk lima cabang lomba di SD dan lima cabang di SMP. Total ada 15 peserta yang berangkat, termasuk para pendamping,” terangnya.
Adapun cabang lomba yang diikuti meliputi stand up comedy, karungut, berdongeng, cipta puisi, cerpen, dan pidato. “Selama ini kita memang belum pernah meraih juara satu, namun sudah pernah mendapatkan terbaik dua dan harapan tiga. Tahun ini harapan kami semua peserta bisa membawa pulang juara satu. Mohon doa dari masyarakat Kotim untuk kesuksesan anak-anak kita,” tutur Yuli.
Ia juga menjelaskan, para peserta berasal dari beberapa sekolah unggulan di Kotim, di antaranya SDN 3 MB Ketapang, SDN 1 Baamang Hulu, SDN 1 Baamang Tengah, dan SDN 2 MB Hulu. Untuk jenjang SMP, peserta berasal dari SMPN 1 Sampit sebanyak enam orang, SMPN 2 satu orang, dan SMPN 3 sebanyak tiga orang.
“Sebelumnya sudah dilakukan seleksi sekitar dua minggu lalu, dan setiap peserta telah menjalani pelatihan intensif bersama guru pendamping,” tambahnya. Salah satu peserta, Cahya Zabinaosira, siswi kelas IX-5 SMPN 1 Sampit yang mengikuti lomba cipta cerpen, mengaku telah mempersiapkan diri dengan serius.
“Saya sudah menghafal dan menuliskan ulang cerpen yang saya buat sekitar dua sampai tiga hari sebelum berangkat. Tantangannya waktu yang terbatas, karena saat lomba tingkat kabupaten lalu waktu menulisnya sangat mepet, tidak sampai tiga jam,” ungkap Cahya. Meski begitu, ia tetap optimis dapat tampil lebih baik di tingkat provinsi. “Saya yakin kali ini bisa lebih siap dan memberikan hasil terbaik,” katanya dengan semangat.
Hal serupa disampaikan peserta lainnya, Gerhan Bahalap, siswa kelas VIII-3 SMPN 1 Sampit yang mengikuti lomba pidato. “Saya baru pertama kali ikut lomba ini. Persiapannya sekitar satu sampai dua minggu. Setiap hari latihan bersama pembimbing. Meski baru pertama, saya yakin bisa memberikan yang terbaik untuk Kotim,” ujarnya penuh keyakinan.
Festival Tunas Bahasa Ibu sendiri merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah sebagai bentuk apresiasi terhadap generasi muda yang berkomitmen menjaga bahasa daerah. Melalui kegiatan ini, diharapkan para pelajar dapat terus menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa ibu sebagai identitas budaya bangsa.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post