SAMPIT – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendapat apresiasi dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) sebagai calon sekolah pengimbas dalam pelaksanaan program Sekolah Aman, Ramah Anak dan Tanpa Kekerasan.
Penghargaan ini didasari oleh berbagai inovasi yang dilakukan sekolah dalam mengelola pendidikan yang berpusat pada kolaborasi serta penguatan karakter. “Alhamdulillah, pada Mei ini kami diapresiasi sebagai calon pengimbas oleh BPMP. Salah satu inovasinya adalah setiap agenda besar sekolah selalu melibatkan orang tua. Misalnya pada perayaan Hari Kartini dan Hardiknas, semua kegiatan kami kolaborasikan antara siswa, guru, dan orang tua,” ujar Kepala SMPN 1 Sampit, Suyoso, Sabtu 3 Mei 2025.
Dalam kegiatan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sekolah melibatkan orang tua sebagai juri berbagai lomba. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa, sekolah mengadakan English Drama yang dimainkan oleh siswa dari berbagai kelas agar seluruh siswa terlibat aktif dan termotivasi.
“Inovasi ini menjadi pemicu semangat siswa. English drama kami rancang agar semua siswa dapat belajar bahasa Inggris melalui peran dan cerita. Jadi pembelajaran jadi menyenangkan dan bermakna,” jelasnya. Tidak hanya itu, SMPN 1 Sampit juga menanamkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Setiap guru diminta memulai kegiatan belajar dengan memastikan kelas bersih. Menurut Suyoso, prinsip yang diterapkan adalah “Kebersihan sebagian dari iman”.
“Kami ingin kesadaran terhadap lingkungan tumbuh sejak dini. Jadi sebelum mulai belajar, yang utama adalah membersihkan lingkungan kelas. Ini sederhana, tapi dampaknya besar terhadap pembentukan karakter,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala SMP Negeri 1 Sampit, Suyoso juga menyampaikan bahwa pengembangan lingkungan sekolah terus dilakukan dengan mengedepankan kemitraan bersama orang tua, swasta, dan pemerintah. Salah satu wujud nyata dari kolaborasi ini adalah pembangunan dan pemanfaatan mushola sekolah sebagai pusat pembinaan karakter religius siswa.
“Alhamdulillah, akses pengembangan sekolah kami lakukan melalui kemitraan dengan orang tua, Dinas Pendidikan, dan juga pihak swasta seperti PT Wilmar Group. Saat ini mushola sudah dimanfaatkan anak-anak untuk salat secara bergilir,” ujar Suyoso, Sabtu 3 Mei 2025.
Dia menjelaskan, karena keterbatasan daya tampung mushola, siswa salat secara bergantian. Untuk memastikan partisipasi, pihak sekolah menerapkan sistem kartu laporan salat yang diserahkan setiap selesai menjalankan ibadah. “Siswa yang telah salat menyerahkan kartu pelaksanaan salatnya. Ini menjadi cara kami membangun kedisiplinan dan memantau pembiasaan ibadah,” jelasnya.
Lebih lanjut, pengembangan mushola masih terus dilanjutkan. Rencana ke depan mencakup pembangunan teras luar, gerbang penghubung antar ruang, serta pemanfaatan mushola sebagai pusat imam terpadu yang terhubung dengan ruang-ruang lain melalui sistem jaringan audio. “Kami membuka seluas-luasnya dukungan dari pihak mana pun untuk menyempurnakan fasilitas ini, sehingga mushola bisa menjadi pusat pembinaan karakter yang kuat bagi siswa,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post