SAMPIT – Antusiasme generasi muda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terhadap pengembangan keterampilan komunikasi terlihat dalam kegiatan Pelatihan Public Speaking dan Master of Ceremony (MC) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Darwan Ali. Kegiatan yang menghadirkan peserta dari kalangan SMA, SMK, mahasiswa hingga masyarakat umum itu berhasil menarik lebih dari 100 peserta dan melampaui target awal panitia.
Universitas Darwan Ali (UNDA) sendiri merupakan perguruan tinggi swasta di Sampit yang terus mendorong pengembangan kompetensi mahasiswa melalui berbagai program kemahasiswaan dan pelatihan keterampilan.
Ketua Panitia, Nurjanah dari Program Studi Manajemen UNDA, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja BEM yang bertujuan membekali generasi muda dengan kemampuan berbicara di depan umum.
“Kegiatan ini merupakan program kerja BEM Universitas Darwan Ali. Pesertanya berasal dari SMA, SMK, mahasiswa, dan masyarakat umum di Kabupaten Kotawaringin Timur. Jumlah peserta lebih dari 100 orang termasuk panitia. Awalnya kami menargetkan 100 peserta, ternyata antusiasme masyarakat sangat tinggi sehingga jumlah peserta membludak, namun alhamdulillah tetap bisa kami atasi dengan baik,” ujarnya, Selasa 16 Juni 2026.
Menurut Nurjanah, tema public speaking dipilih karena kemampuan komunikasi menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki generasi muda di tengah perkembangan teknologi saat ini.
“Pelatihan public speaking sangat penting untuk anak muda generasi sekarang. Mereka perlu belajar bagaimana menyampaikan pendapat, gagasan, maupun aspirasi kepada masyarakat secara baik dan efektif. Kemampuan komunikasi menjadi bekal penting dalam dunia pendidikan, organisasi maupun dunia kerja,” katanya.
Ia menegaskan kegiatan serupa akan terus dikembangkan sebagai agenda rutin kampus.
“Program ini akan terus kami galakkan sebagai kegiatan rutin Universitas Darwan Ali agar generasi berikutnya juga memiliki kesempatan melatih kemampuan public speaking. Kalau tahun ini dilaksanakan satu hari, bukan tidak mungkin tahun depan bisa dua atau tiga hari dengan menghadirkan pemateri yang lebih beragam,” tambahnya.
Sementara Rektor UNDA, Dr. Wendy Kesuma, menekankan bahwa kecanggihan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) tidak akan mampu menggantikan kemampuan seseorang dalam menyampaikan ide secara langsung.
“Zaman sekarang semua bisa dibantu dengan AI, tetapi yang dicari saat ini adalah bagaimana cara kalian menyampaikan ide itu. Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan AI,” tegasnya.
Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi dan profesional MC, Ravicha Septia, sebagai pemateri utama. Peserta mendapatkan materi mengenai teknik dasar public speaking, membangun rasa percaya diri, penguasaan panggung, hingga cara menghadapi berbagai situasi saat menjadi pembawa acara.
Salah satu peserta, Nadieh Almafira Zahra Aulia, siswi kelas XI SMA Negeri 2 Sampit, mengaku mendapatkan banyak ilmu baru dari pelatihan tersebut.
“Seminarnya seru banget. Kami dapat banyak ilmu tentang bagaimana menjadi MC yang baik dan cara menangani situasi secara profesional ketika berada di atas panggung,” ujarnya.
Nadieh mengaku selama ini hanya memiliki pengalaman menjadi MC pada kegiatan sekolah seperti class meeting maupun acara serah terima jabatan. Karena itu, pelatihan yang digelar BEM UNDA dinilai sangat membantu meningkatkan kemampuannya.
“Harapan saya kegiatan seperti ini bisa lebih sering dilaksanakan dan dikembangkan lagi. Selain public speaking mungkin bisa ada pelatihan kewirausahaan atau kegiatan pengembangan diri lainnya untuk pelajar dan generasi muda,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, BEM UNDA berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif, percaya diri, serta siap menjadi pemimpin dan agen perubahan di tengah masyarakat.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post