SAMPIT – Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA) kini memiliki delapan program studi (Prodi) yang tersebar di tiga fakultas, yakni Fakultas Kesehatan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), serta Fakultas Teknik dan Pertanian. Rektor UMSA, Ramadansyah menyebut pihaknya terus berupaya mengembangkan kampus dengan menambah Prodi baru sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kami sudah dalam proses pengusulan delapan Prodi baru dengan tambahan satu fakultas. Pertama adalah S1 Kebidanan. Saat ini baru ada D3 Kebidanan, sehingga nantinya mahasiswa bisa langsung melanjutkan ke S1 di Kotim tanpa harus keluar daerah. Kedua adalah S1 Keperawatan. Dua Prodi ini sekaligus untuk menunjang rencana pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah di Sampit,” jelas Ramadansyah, Senin 18 Agustus 2025.
Menurutnya, kehadiran S1 Kebidanan dan S1 Keperawatan juga penting untuk memberikan kesempatan bagi tenaga kesehatan yang masih lulusan Diploma agar bisa melanjutkan studi tanpa harus jauh-jauh ke daerah lain.
“Teman-teman kita yang bekerja di Puskesmas maupun di desa banyak yang masih lulusan Diploma. Dengan adanya S1 di Sampit, mereka bisa melanjutkan di sini saja. Apalagi, sekarang profesi kebidanan memang wajib S1,” tambahnya.
Selain dua Prodi kesehatan tersebut, UMSA juga mengusulkan Prodi Pendidikan Guru PAUD dan Pendidikan Guru SD.
“Kemudian ada juga Prodi Pendidikan Seni Budaya Dayak yang saat ini sudah kami konsultasikan ke kementerian. Bahkan kami diminta membuat naskah akademiknya. Insya Allah ini satu-satunya Prodi Pendidikan Seni Budaya Dayak yang ada di Indonesia,” ucapnya.
Ramadansyah menuturkan, pengusulan Prodi Pendidikan Seni Budaya Dayak berangkat dari keprihatinan terhadap minimnya guru muatan lokal yang benar-benar memiliki latar belakang seni budaya.
“Selama ini muatan lokal di sekolah-sekolah umumnya Bahasa Dayak, tetapi kita tahu bahasa Dayak itu sangat beragam, termasuk bahasa Sampit. Oleh sebab itu kami mengangkat Prodi Seni Budaya Dayak ini agar ada tenaga pendidik yang memang fokus melestarikan bahasa daerah sekaligus seni budaya Dayak,” tegasnya.
Menurut dia, Prodi Pendidikan Seni Budaya Dayak juga akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kotim karena bisa menjadi pusat pembelajaran yang terbuka bagi mahasiswa se-Kalimantan.
“Kami berharap, jika disetujui, lulusan Prodi ini akan bergelar S.Pd.D (Sarjana Pendidikan Seni Budaya Dayak) dan siap menjadi guru muatan lokal di sekolah-sekolah. Harapan kami juga agar seluruh Kalimantan bisa belajar di UMSampit,” imbuhnya.
Dalam proses pengusulan Prodi tersebut, pihaknya sudah mendapatkan dukungan penuh dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim serta rekomendasi dari Bupati Kotim.
“Kami juga sudah mendapat kabar dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, khususnya di bidang Bapelitbang, bahwa rekomendasi ini akan segera dibawa ke Menteri. Jadi kami optimistis,” ungkap Ramadansyah.
Lebih jauh, UMSA juga tengah memproses pengusulan Fakultas Agama Islam. Fakultas baru ini akan menaungi dua Prodi, yaitu Pendidikan Agama Islam serta Hukum Keluarga Islam.
“Tidak hanya itu, kami juga sedang menyiapkan S2 Pendidikan Agama Islam. Ini untuk memberikan kesempatan bagi guru agama maupun tenaga pendidik di pondok pesantren yang sebagian besar saat ini masih S1,” katanya.
Dengan adanya pengembangan tersebut, UMSampit menargetkan bisa menjadi pusat pendidikan unggulan di Kalimantan Tengah yang tidak hanya menghasilkan tenaga kesehatan dan pendidik, tetapi juga melestarikan seni budaya lokal.
“Kami ingin UMSA bukan hanya mencetak lulusan berdaya saing, tapi juga menjaga jati diri budaya Dayak agar tetap berkelanjutan,” tutup Ramadansyah.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post