SAMPIT – Aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 3 Sampit masih dibayangi persoalan bau menyengat yang berasal dari depo atau tempat penampungan sampah di sekitar lingkungan sekolah. Kondisi tersebut telah berlangsung sejak 2020 dan hingga kini masih menjadi keluhan warga sekolah, terutama saat aktivitas pembongkaran dan pengangkutan sampah dilakukan pada pagi hari bertepatan dengan jam belajar.
Kepala SMP Negeri 3 Sampit, Dra. Hj. Siti Hadijah, mengungkapkan bahwa dirinya tidak ingin menutupi kondisi yang selama ini dihadapi sekolah. Menurutnya, siapa pun yang datang ke sekolah dapat merasakan sendiri aroma tidak sedap yang mengganggu kenyamanan proses belajar.
“Mungkin saya tidak perlu banyak menjelaskan tentang bau sampah. Teman-teman bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya kami selama delapan jam berada di sekolah mencium bau seperti ini. Inilah keadaan sekolah kami,” ujarnya, Senin 13 Juli 2026.
Siti Hadijah mengatakan, selama kurang lebih enam tahun terakhir pihak sekolah terus berupaya berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur agar persoalan tersebut mendapat penyelesaian yang lebih permanen.
Menurutnya, pemerintah daerah sempat memberikan solusi dengan menutup salah satu akses di sekitar depo sampah. Namun, sekolah berharap aktivitas pembongkaran maupun pengangkutan sampah tidak dilakukan pada pagi hari saat siswa sedang mengikuti pembelajaran.
“Kami hanya berharap kalau memang belum ada solusi permanen, setidaknya aktivitas pembongkaran dan pengangkutan sampah jangan dilakukan saat jam belajar. Karena saat itulah aroma yang muncul sangat menyengat,” katanya.
Ia menjelaskan, bau menyengat biasanya muncul ketika petugas melakukan pembongkaran sampah. Aroma tersebut langsung menyebar hingga ke lingkungan sekolah dan mengganggu aktivitas belajar mengajar.
Meski demikian, Siti Hadijah menegaskan pihak sekolah tidak ingin menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk menyerah ataupun menurunkan semangat belajar para siswa.
Sebaliknya, SMP Negeri 3 Sampit terus membuktikan diri sebagai sekolah berprestasi. Ia menyebut sekolah yang dipimpinnya telah meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional, melahirkan atlet bulu tangkis yang berprestasi hingga tingkat nasional, serta pernah memperoleh penghargaan dari Kementerian Pendidikan sebagai sekolah berprestasi. Berbagai capaian tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan lingkungan tidak menghalangi semangat warga sekolah untuk terus berkembang.
“Di tengah keadaan seperti ini kami harus bangkit. Saya selalu sampaikan kepada guru dan anak-anak, jangan berhenti hanya karena keadaan. Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu,” tegasnya.
Semangat tersebut, lanjutnya, tercermin dari prestasi siswa yang terus bermunculan. Selain atlet bulu tangkis yang kembali dipersiapkan menuju tingkat nasional, tim olahraga lainnya juga terus menorehkan prestasi di berbagai kejuaraan.
Siti Hadijah mengungkapkan, persoalan bau sampah sejauh ini memang belum memberikan dampak besar terhadap minat masyarakat menyekolahkan anak di SMP Negeri 3 Sampit.
Hal itu terlihat dari tingginya animo masyarakat pada Sistem Penerimaan Murid Baru tahun ajaran ini. Dari kuota penerimaan sebanyak 288 siswa, jumlah pendaftar mencapai sekitar 452 orang sehingga seluruh kuota dapat terpenuhi.
“Alhamdulillah kuota tetap terpenuhi. Artinya masyarakat masih percaya kepada SMP Negeri 3 Sampit,” ucapnya.
Saat ini, SMP Negeri 3 Sampit memiliki sekitar 896 siswa. Menurutnya, kepercayaan masyarakat tersebut menjadi motivasi bagi seluruh tenaga pendidik untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan meskipun menghadapi tantangan lingkungan.
Meski belum ada laporan gangguan kesehatan yang serius, Siti Hadijah mengakui aroma menyengat kerap membuat siswa baru mengalami mual hingga muntah, terutama pada masa awal bersekolah.
“Biasanya anak-anak baru mengeluh mual dan muntah karena belum terbiasa dengan aromanya. Setelah beberapa waktu mereka memang beradaptasi, tetapi sebenarnya itu adaptasi yang terpaksa,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat segera menghadirkan solusi terbaik agar seluruh siswa dapat belajar dengan nyaman tanpa terganggu bau sampah.
“Sebagai kepala sekolah saya harus tetap memberi semangat kepada anak-anak. Saya ini ibunya mereka di sekolah. Tetapi kami juga berharap pemerintah daerah terus memperhatikan persoalan ini agar anak-anak bisa belajar dengan lingkungan yang sehat dan nyaman,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)



















Discussion about this post