SAMPIT – Upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Kalimantan Tengah terus mendapat dukungan. Salah satunya datang dari akademisi dan pengamat pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Tasrifinoor, yang mengapresiasi program “Satu Rumah Satu Sarjana” gagasan Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran.
Program ini dinilai menjadi langkah nyata untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat kurang mampu.
“Pendidikan gratis adalah langkah yang sangat tepat. Banyak anak dari keluarga kurang mampu akhirnya bisa merasakan bangku kuliah. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan,” ujar Tasrifinoor, Rabu 16 April 2025.
Namun, Tasrifinoor juga menyoroti rendahnya minat generasi muda di daerah tersebut untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Berdasarkan pengamatannya, hanya sekitar 20 hingga 30 persen lulusan SMA/SMK yang melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Mayoritas memilih langsung bekerja karena alasan ekonomi.
“Orang tua lebih memilih anaknya bekerja agar bisa membantu kebutuhan rumah tangga, apalagi dengan mahalnya biaya hidup saat ini,” jelasnya.
Sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Habaring Hurung, Tasrifinoor menilai program ini sebagai angin segar bagi keluarga yang kesulitan membiayai kuliah anak-anaknya. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya kebijakan lanjutan bagi lulusan program tersebut.
“Harus ada kejelasan arah setelah mereka lulus. Apakah ada jaminan kerja atau peluang karier yang disiapkan? Jangan sampai mereka lulus tapi justru menjadi pengangguran,” katanya.
Ia juga menyoroti kecenderungan mahasiswa dari Kotim melanjutkan studi ke luar daerah seperti Banjarmasin dan Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kualitas dan daya tarik perguruan tinggi lokal agar program berjalan optimal.
“Pemerintah harus mendorong agar kampus lokal yang terlibat dalam program ini benar-benar menjadi pilihan utama generasi muda. Apalagi ada 32 perguruan tinggi yang terlibat dan kuota 10 ribu mahasiswa, ini sangat luar biasa,” tambahnya.
Tasrifinoor berharap program ini tak hanya sukses secara teknis dan pendanaan, tetapi juga mencetak lulusan yang siap bersaing dan terserap di dunia kerja. Ia menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta untuk mendukung keberlanjutan program.
“Program ini sangat luar biasa dan kami pasti mendukung. Tapi perencanaannya harus matang agar lulusan tidak jadi pengangguran baru,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post