SAMPIT – Penertiban pedagang liar tak cukup dengan mengusir mereka dari bahu jalan. Menurut Anggota Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Hendra Sia, solusi jangka panjang justru ada pada bagaimana pemerintah bisa menghadirkan pasar yang layak, aman, dan nyaman bagi semua pedagang.
“Kalau lapak di dalam pasar kosong, tapi pedagang tetap memilih trotoar, artinya ada yang salah dengan fasilitas yang kita sediakan. Ini bukan sekadar soal ketertiban, tapi soal kebutuhan dasar untuk mengais rezeki,” ucapnya, Jumat 30 Mei 2025.
Ia menilai, pedagang liar hanya gejala dari persoalan yang lebih dalam: pasar tradisional belum sepenuhnya berfungsi sebagai pusat ekonomi rakyat. Banyak pasar yang kotor, sempit, kurang pencahayaan, bahkan tak punya fasilitas air bersih atau tempat parkir yang memadai.
“Pemerintah harus memperlakukan pasar bukan hanya sebagai tempat jual beli, tapi sebagai ruang hidup ekonomi masyarakat. Kalau sarprasnya layak, mereka pasti pindah sendiri tanpa harus ditertibkan,” katanya.
Hendra juga menyoroti bahaya yang ditimbulkan dari aktivitas di pinggir jalan. Mulai dari kemacetan, parkir liar, hingga kecelakaan yang mengancam keselamatan pengguna jalan. Namun ia menolak pendekatan represif semata.
“Penertiban itu perlu, tapi pendekatannya jangan kaku. Jangan langsung bongkar kalau lapaknya di trotoar, tapi tidak menyediakan alternatif yang manusiawi. Ini rakyat kecil yang kita bicarakan,” tegasnya.
Sebelumnya, Pemkab Kotim melalui Satpol PP menyatakan akan menindaklanjuti pelanggaran yang terjadi di sekitar Pasar Keramat. Bangunan liar yang berdiri di atas trotoar dan saluran air akan dibongkar karena sudah beberapa kali mendapat teguran.
Namun bagi Hendra, eksekusi lapangan harus diiringi langkah strategis. Ia mengusulkan agar pemerintah mulai memikirkan pengembangan pasar yang lebih modern namun tetap terjangkau. Misalnya, dengan sistem zonasi pedagang, revitalisasi kios, hingga penyediaan layanan umum yang memadai.
“Kita tidak bisa terus-menerus bermain di urusan menertibkan. Sudah waktunya kita bicara bagaimana pasar bisa naik kelas, menjadi tempat usaha yang bermartabat bagi warga,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)








